Sabtu, 14 September 2013

(Aku Cinta Produk Indonesia) Jamu Indonesia Siap Mendunia

" Ingat lima perkara sebelum lima perkara, sihat sebelum sakit....."
(Lagu : Demi Masa, Penyanyi : Grup Nasyid Raihan)

Begitulah nikmat sehatNya yang akan terasa setelah kita sakit. Begitu juga saya, ketika tubuh saya mulai demam dan butuh obat. Saya tidak langsung pergi ke dokter atau membeli obat tertentu ke apotik atau warung obat. Saya akan mencari obat-obat tradisional yang ada di sekitar rumah yang bisa mengobati sakit saya itu.

Obat tradisional yang bisa kita temukan di Indonesia ini lazim disebut JAMU.

Pengalaman saya sendiri, hampir 30 tahun lebih umur saya bisa menghitung berapa kali saya sakit dan minum obat resep dari dokter. Selebihnya, saya rajim minum jamu sebagai suplemen. Saya percaya dengan rajin minum jamu, saya akan lebih sehat dan terhindar dari penyakit. Alhamdulillah, saya tidak mempunyai riwayat sakit serius kecuali saya harus rawat inap empat kali di rumah sakit karena melahirkan, hehehe.

Dari berbagai jenis jamu ada jamu instan/jamu gendong, jamu kaplet/kapsul/pil dan jamu serbuk/bubuk  yang sering saya minum adalah jamu yang sudah di racik dan tinggal di minum yang sering di jajakan oleh mbok jamu dengan di gendong aka jamu gendong. Jamu yang di bawa oleh mbok-mbok  jamu isi nya hampir sama ada jamu beras kencur, cabe puyang, kudu laos, kunir asem, sinom, pahitan, kunci suruh dan uyup-uyup/gepyokan. Masing-masing nama jamu gendong di percaya secara turun temurun mampu menyembuhkan penyakit tertentu jika kita mengkonsumsi nya secara teratur.

Jamu dan perkembangan nya
- Jamu 

Logo Jamu yang ada di kemasan
Sebagai obat tradisional yang dipercaya mampu mengobati penyakit tertentu secara turun temurun, jamu masih menjadi polemik di kalangan medis jika pemakaian nya bersamaan dengan obat kimia yang di berikan oleh dokter.  Zat aktif dalam obat kimia umumnya lebih cepat diserap tubuh. Adapun obat herbal, selain lebih lambat diserap tubuh, terkadang bersifat mengikat zat dari obat kimia. Akibatnya, efek obat kimia jadi tidak maksimal.
Untuk itu sudah dilakukan riset penelitian dengan dana yang tidak sedikit (bisa menelan dana milyaran) dan bertahun-tahun  oleh beberapa produsen jamu untuk meningkat kan kualitas jamu menjadi lebih bermanfaat bagi konsumen nya.
Jamu adalah ramuan obat tradisional  dari alam yang masih berupa simplisia sederhana, seperti irisan rimpang, daun atau akar kering. Khasiat  dan keamanannya terbukti  secara empiris berdasarkan pengalaman turun-temurun. Sebuah ramuan disebut jamu jika telah digunakan masyarakat melewati 3 generasi. Artinya bila umur satu generasi rata-rata 60 tahun, sebuah ramuan disebut jamu jika bertahan minimal 180 tahun.  Sebagai contoh, masyarakat mengenal rimpang temulawak untuk mengatasi hepatitis selama ratusan tahun. Pembuktian khasiat tersebut baru sebatas pengalaman nenek moyang,   belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa temulawak sebagai antihepatitis. Jadi rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza) itu tetaplah jamu dan  ketika dikemas kemudian dipasarkan, produsen dilarang mengklaim temulawak sebagai obat.
Selain tertulis "jamu", dikemasan produk tertera logo berupa ranting daun berwarna hijau dalam lingkaran.
Di pasaran banyak beredar produksi kamu seperti  Tolak Angin (PT Sido Muncul), Pil Binari (PT Tenaga Tani Farma), Curmaxan dan Diacinn (Lansida Herbal), dll.

- Herbal Terstandar


Logo Herbal Berstandar yang ada di kemasan
Untuk membuktikan klaim bahwa jamu adalah obat, harus di buktikan khasiat dan keamanan nya dengan riset-riset yang panjang oleh para ahli farmakologi dan tim  dengan standarisasi yang sudah ditentukan. Uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmakodinamik (kemanfaatan) dan teratogenik (keamanan terhadap janin)  meliputi in vivo dan in vitro. Riset in vivo dilakukan terhadap hewan uji seperti mencit, tikus ratus-ratus galur, kelinci atau hewan uji lain. Sedangkan in vitro dilakukan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Riset in vitro bersifat parsial, artinya baru diuji pada sebagian organ atau pada cawan petri. Setelah terbukti aman dan berkhasiat, barulah ramuan obat tradisional tadi berstatus herbal berstandar. Dan kita bisa melihat dari kemasan produk nya berlogo jari-jari daun dalam lingkaran. Hingga saat ini, di Indonesia baru 17 produk herbal terstandar yang beredar di pasaran. Sebagai contoh Diapet (PT Soho Indonesia), Kiranti (PT Ultra Prima Abadi), Psidii (PJ Tradimun), Diabmeneer (PT Nyonya Meneer), dll.

- Fitofarmaka
Logo Fitofarmaka yang ada di kemasan
Riset jamu ini tidak berhenti hanya kepada hewan coba dan bakteri saja. Untuk meningkat kan manfaat nya sebagai obat yang aman dan berkhasiat. Ramuan obat tradisional ini perlu di coba kan ke manusia. Karena bisa jadi ramuan obat tradisional ini aman dan berkhasiat untuk hewan coba tetapi tidak ada manfaat dan khasiat nya ketika di konsumsi oleh manusia. Fitofarmaka ini melalui Uji klinis yang terdiri atas single center yang dilakukan di laboratorium penelitian dan  multicenter di berbagai lokasi agar lebih obyektif. Setelah melalui berbagai uji klinis dan berhasil barulah produsen bisa mengklaim produknya sebagai obat. Namun demikian, klaim tidak boleh menyimpang dari materi uji klinis sebelumnya. Misalnya, ketika uji klinis hanya sebagai antikanker, produsen dilarang mengklaim produknya sebagai antikanker dan antidiabetes. Kemasan produk fitofarmaka berupa jari-jari daun yang membentuk bintang dalam lingkaran. Saat ini di Indonesia baru terdapat 5 fitofarmaka, contoh Nodiar (PT Kimia Farma), Stimuno (PT Dexa Medica), Rheumaneer PT. Nyonya Meneer), Tensigard dan X-Gra (PT Phapros).

Jamu dan kendala nya
- Uji klinis dan pra-klinis yang mahal
Indonesia adalah negara tropis yang kaya SDA nya, salah satu nya adalah keanekaragaman flora nya yang tersebar di gunung maupun daratan. Jamu sebagai ramuan tradisional bisa di temui di berbagai suku Indonesia, jamu di percaya secara turun temurun mengobati penyakit dengan harga yang relatif terjangkau. Faktor ekonomi masyarakat yang sebagian besar masih kurang, membuat jamu menjadi alternatif penyembuhan penyakit yang sangat di minati. Hal ini membuat produsen jamu enggan untuk meningkatkan kualitas jamu menjadi herbal terstandar dan fitofarmaka. Toh, tanpa perlu meningkatkan kualitas nya produsen jamu tetap saja laku produk nya. Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Hary Wahyu Triestanto Wibowo mengatakan, saat ini baru terdaftar 6 fitofarmaka dan 31 obat herbal terstandar. Adapun jamu jumlahnya mencapai ribuan.
Memang bukan rahasia lagi, jika riset uji klinis dan uji pra klinis ini memerlukan dana yang tidak sedikit, butuh dana milyaran untuk menguji sebuah jamu menjadi fitofarmaka yang hasil nya akan menentukan aman dan tidak untuk di konsumsi manusia.
Faktor pembuatan jamu yang baik pun perlu untuk di perhatikan  oleh para produsen jamu,   mulai dari penanaman tanaman obat, perawatan, panen, pengeringan, ekstraksi, penyimpanan, pembuatan , hingga distribusinya tidak bisa dilakukan asal-asalan harus sesuai dengan standarisasi yang sudah di tentukan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
Tentu saja proses  ini butuh cost tersendiri bagi produsen jamu untuk memberikan pelayanan dan jaminan yang bermutu untuk produk jamu nya. Tapi fakta nya menurut Rudy Susilo dari Evoria GmbH, Jerman,  pengolahan obat herbal di Indonesia banyak yang tak memenuhi standar. Orientasi bisnis produsen lebih besar sehingga kurang memperhatikan aspek keamanan obat bagi konsumen.

-  Halal dan Thayyib
Jamu yang praktis dan mudah di temukan di mana saja, kadang-kadang tidak pernah terpikirkan bagi konsumen nya, bagaimana kehalalan produk nya? . Kedai-kedai jamu dan mbok jamu gendong sangat mudah sekali kita temukan di pinggir-pinggir jalan. Banyak orang (termasuk saya) menganggap bahwa jamu selama ini hanya  campuran bahan-bahan dari tumbuhan. Namun pada kenyataannya bahan-bahan yang berasal dari hewan juga bisa digunakan sebagai ramuan jamu. Dengan demikian perlu ada kehati-hatian dalam memilih jamu. Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia sudah saat nya kesadaran menggunakan semua produk yang halal dan thayyib di lakukan oleh individu (sebagai konsumen) serta pemerintah (sebagai pengambil kebijakan).
Ramuan jamu tradisional yang di konsumsi oleh  masyarakat,  kemudian berkembang menjadi ramuan jamu yang diyakini memiliki khasiat tertentu bagi tubuh manusia. Pada kenyataannya beberapa ramuan tradisional itu menggunakan bahan-bahan hewani, seperti kuda laut, jeroan ayam (empedu, limpa, tembolok, dsb) dan ekstrak berbagai bagian dan jenis binatang. Dari data yang dihimpun Jurnal Halal ternyata ada indikasi penggunaan bahan-bahan hewani dalam jamu-jamu modern yang beredar di masyarakat. Kehadiran ekstrak atau bahan dari hewan itu tentu saja menimbulkan masalah tersendiri dari segi kehalalan. Sebab penggunaan hewan ini harus dilihat dari segi jenis hewannya dan metode pemotonganya. Perkembangan teknologi proses dan pengolahan pun telah menyentuh industri jamu. Kini produk tersebut sudah ada yang berbentuk ekstrak (sari) instan, berbentuk kaplet, tablet dan juga kapsul. Nah selama proses ekstraksi, pembentukan kaplet dan tablet serta penggunaan kapsul ini memungkinkan masuknya bahan-bahan haram semisal gelatin. Hal ini menjadi titik kritis bagi konsumen apakah bahan yang di gunakan tadi melibatkan bahan-bahan haram atau subhat.

Globalisasi Jamu
"Western medicine tries to destroy cancer, but at the same time it destroys elements of the body. Jamu helps the body produce its own antibodies to fight the cancer by itself," says Bryan Hoare, manager at MesaStila, a wellness retreat in central Java that serves jamu shots with breakfast and employs a tabib, or indigenous healer, for private consultations. "Coming from the earth, jamu also makes you feel good. When you take it you experience a positive feeling."
[ Jamu: Why Isn't Indonesia's Ancient System of Herbal Healing Better Known? -- Time World, Februari 29. 2012]

Liputan tentang jamu oleh majalah international sekelas Time World, sudah membuktikan bahwa jamu sudah dilirik oleh barat untuk di kembangkan dan di teliti lebih jauh khasiat nya untuk mengobati penyakit.  Pada tahun 1990, seorang jurnalis wanita dari Irlandia Susan Jane-Beers melihat  sebuah klinik jamu di sudut Jakarta. Seorang pasien mengeluh nyeri lutut kronis karena usia, yang belum bisa disembuhkan oleh obat-obatan konvensional, namun bisa pulih setelah beberapa kali minum jamu. Dari kejadian  itu, Jane-Beers  meneliti asal-usul, mitos, resep  jamu di Jawa, di mana tanaman telah digunakan untuk tujuan pengobatan sejak zaman prasejarah selama sepuluh tahun.  Hasilnya, tahun 2001 ia menerbitkan buku dalam bahasa Inggris, Jamu: The Ancient Art of Herbal Healing. Bukunya menjadi buku laris yang paling banyak dibaca di luar Indonesia sejak buku Herbarium Amboinense, katalog tanaman yang diselesaikan oleh ahli botani Jerman Georg Rumphius pada 1690, lebih dari tiga abad sebelumnya.

Tentu saja kita senang, salah satu warisan turun temurun nenek moyang Indonesia mulai di kenal dunia selain batik, angklung dan borobudur. Namun kesenangan kita pun, menggelitik hati  akan kah keterbatasan dana yang di miliki pemerintah negeri ini akan membawa jamu sebagai produk baru yang nanti nya di patenkan oleh barat karena mereka lah yang mengembangkan jamu dengan riset-riset nya yang canggih. Sungguh ironi bukan jika hal itu sampai terjadi.

Jaya Suprana, pemilik museum MURI sekaligus owner Jamu Jago berinisiatif mendaftarkan jamu sebagai Intangible Cultural heritage dari Indonesia ke UNESCO. Alhamdulillah, langkah yang di ambil nya itu di respon positif oleh UNESCO sebagai badan internasional yang berwenang memberikan penghargaan warisan budaya non-bendawi kepada satu heritage di dunia dari ratusan warisan budaya di dunia yang di ajukan oleh 151 negara anggota nya.


Dan seyogya nya kita pun ikut mendukung melestarikan warisan nenek moyang kita ini dengan memberikan apresiasi positif terhadap jamu dan khasiat nya. Begitu pun para dokter dan apoteker Indonesia, yang di himbau Jaya Suprana untuk menahan diri tidak melecehkan jamu sebagai sesuatu yang tidak bisa di pertanggung jawabkan ke-ilmiahan nya sambil berusaha membuka nurani untuk lebih mau dan mampu memahami dan menghargai hakikat makna jamu sebagai karsa dan karya kebudayaan bangsa Indonesia.

Dalam buku nya tentang jamu, Susan Jane-Beers pun meyakinkan kepada kita jika jamu sebagai obat warisan turun temurun Indonesia seharusnya juga populer seperti hal nya obat-obatan tradisional Asia yang lain seperti sistem ayurveda India dan penyembuhan herbal Cina.

Sebuah studi tahun 2011 oleh Department of Food Science and Technology di Virginia Tech menemukan bukti yang menunjukkan ekstrak dari buah sirsak menghambat pertumbuhan kanker payudara. Sementara kunyit terbukti sebagai salah satu bagian pengobatan untuk alzheimer.

Riset tersebut tentu membukakan mata kita yang selama ini mengenal jamu sebagai obat penyakit  ringan saja bukan penyakit yang di sebabkan oleh pertumbuhan sel cancer yang cepat dan ditakuti oleh manusia karena mematikan.

Tak perlu berpanjang-panjang lagi tulisan saya tentang jamu, karena saya mengenal nya dari kecil dan mengonsumsi nya juga sampai sekarang. Karena saya yakin jamu bisa menjadi alternatif obat yang mujarab untuk berbagai penyakit yang sudah terbukti khasiat nya secara turun temurun.
Dan saya sangat berharap (kepada pemerintah) jamu sebagai obat yang saya yakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit, di teliti kembali dengan riset yang lengkap di laboratorium dan diperhatikan kehalalan nya sehingga semakin afdhol saya meminum nya.




Bahan Bacaan :
- Hati-Hati Gabung Obat Kimia Herbal. Republika. Jum'at, 10 Februari 2012
- Wikipedia. Jamu.
- Bedanya Jamu, Herbal Berstandar dan Fitofarmaka. Lansida. Blogspot.com
- Jamu Makin Mendunia. Majalah Sains Indonesia. Kamis, 5 Juni 2012
- Hati-Hati Memilih Jamu. www.halalguide.com
-  http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013
- Wikipedia. Unesco
- Jamu: Why Isn't Indonesia's Ancient System of Herbal Healing Better Known? . Time World. Wednesday, Feb.29.2012







2 komentar:

  1. jamu jamu....
    jadi inget, dulu sering banget kabur-kaburan dipaksain minum jamu. haha

    BalasHapus
  2. hehehe....rasa nya ternyata enak kan mbak Anita

    Salam kenal....Maturnuwun sdh berkunjung ke blog saya ^_^

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...