Halaman

Kamis, 17 Desember 2015

[Resensi Novel Tereliye] Pulang

Gambar di ambil disini


PULANG
Pengarang :
TERE LIYE




ISBN :
978-602-082-212-9




Terbit :
Jakarta, 2015 




Halaman :
iv+ 400 Halaman




Harga :
Rp. 65000,-




Berat :
300 gram




Dimensi :
13.5 X 20.5 Cm




Cover :
Soft Cover












"Mamak, Bujang pulang hari ini. Tidak hanya pulang bersimpuh di pusaramu, tapi juga telah pulang kepada panggilan Tuhan. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang" (Epilog : Pulang, hal 400)

Itulah salah satu paragraf yang menutup novel Pulang Tereliye yang sampai saat ini masih banyak para pembaca yang penasaran ingin membeli. Saya sudah lama tidak membaca buku fiksi seperti novel karena waktu lebih banyak terpakai mengurus anak-anak dan rumah. Tapi entahlah, setelah saya selesai membaca novel Rindu Tereliye setahun yang lalu dan itu adalah novel karya bang Darwis yang pertama saya baca dari sudah puluhan novel nya bahkan beberapa sudah di film kan, hehehe.
Dan novel Rindu telah membuat saya kembali suka membaca. Bulan September tahun ini bang Darwis merilis novel terbaru nya yang berjudul  Pulang,  saya pun jadi penasaran untuk membeli dan membaca.

Dari judul dan cover novel Pulang, sebenarnya saya tidak begitu tertarik untuk membaca. Cover soft warna hijau tosca dengan robekan sunset membuat saya berfikir novel Pulang menceritakan tentang konflik internal keluarga antara orang tua dengan anak yang ending nya adalah anak akan kembali pulang ke rumah orang tua. Ternyata saya salah, tulisan fiksi novel Pulang Tereliye ini menceritakan lebih dari konflik internal keluarga, ya  karena menceritakan konflik antar keluarga pengusaha dunia hitam yang wilayah kekuasaan nya adalah dunia.

"Kisah ini dimulai dua puluh tahun silam, saat usia ku lima belas tahun" (Si Babi Hutan, hal 2)
Bang Darwis menggunakan alur flashback untuk menceritakan tokoh utama Bujang. Dengan alur tersebut bang Darwis berhasil membuat saya sebagai pembaca tidak bisa berhenti membaca karena penasaran dengan ending dari novel ini. Siapa Bujang disimpan rapat identitas nya oleh bang Darwis, sampai hal. 316  pembaca baru mengetahui nama panggilan Bujang 'Si Babi Hutan' yang sebenarnya adalah Agam.

Sebelum usia 15 tahun, Bujang hidup di talang sebuah desa kecil yang penduduk nya sedikit dan jauh dari pemukiman penduduk. Mereka tinggal di hutan lereng Bukit Barisan, Sumatera. Bersama bapaknya, Samad yang keras dalam mendidik nya dan mamaknya, Midah  yang diam-diam tanpa sepengetahuan bapak nya mengajari Bujang ilmu agama. Kehidupan Bujang berubah ketika Tauke Muda, sahabat bapak nya datang ke desa nya untuk memburu babi hutan dan setelah selesai mengajak Bujang ke kota. Keinginan Bujang untuk keluar dari desa nya tak terbendung dan hal itu membuat mamak yang tak mengijinkan menangis karena bertengkar dengan bapak nya yang mengijinkan Bujang ikut dengan Tauke Muda. 
".....Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram".
" Berjanjilan kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar....Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang". Mamak mencium ubun-ubunku
(Janji Kepada Mamak, hal. 24)

Tinggal bersama Tauke Muda di kota, Bujang sudah di anggap anak sendiri. Ketika membaca  novel Pulang saya jadi teringat film booming Bollywood  3 Idiots karena tokoh utama Bujang tak ubahnya 'Rancho' Shalmadas Chanchad (Amir Khan). Berawal dari mengejar ketertinggalan Bujang dalam hal belajar selama 15 tahun tinggal di hutan, Bujang belajar privat bersama Frans (sahabat Tauke Muda) warga Amerika seorang diplomat yang menguasai banyak bahasa dan pensiun dini memilih menjadi  guru di sekolah internasional ibukota. Kenapa saya jadi teringat film 3 Idiots karena Bujang adalah sosok yang jenius, cerdas dan smart sama dengan tokoh Rancho (Amir Khan), beda nya dunia Bujang adalah dunia hitam yang penuh konflik persaingan bisnis antar negara dan benua.

"Aku tahu pemuda itu sedikit. Dia satu kampus denganku di Amerika, menyelesaikan dua master sekaligus empat short-course dalam waktu singkat. Dia lulus dengan nilai sempurna. Tidak ada yang tahu latar belakang keluarganya. Semua serba misterius. Tapi bukan itu hal mengerikan tentangnya. Di tahun kedua, saat aku masih di sana, kampus kami kedatangan atlet lari cepat pemegang rekor dunia. Pemuda itu menantang atlet itu untuk lomba lari. Hanya beberapa orang yang menyaksikannya, di stadion kampus yang tertutup, dia mengalahkan atlet pemegang rekor dunia itu seperti mengalahkan seorang anak kecil". (Shadow Economy, hal. 36)
Tidak hanya jenius dan pandai, Bujang menginginkan diri nya seperti bapak nya  Samad seorang tukang pukul senior ketika mengabdi di keluarga Tong. Walaupun awalnya ketua keluarga Tong, Tauke Besar (dulu disebut Tauke Muda) tidak setuju dengan keinginan Bujang, akhirnya mengalah dan menyetujui. Kopong, kepala tukang pukul keluarga Tong telah berhasil menjadikan Bujang seorang tukang tinju yang hebat. Pelajaran selanjutnya, Bujang belajar bersama Guru Bushi, ahli Samurai Jepang dan Salonga, tukang tembak paling jitu dari Philipina.

Beberapa tahun Bujang di kota,  kemudian bisnis keluarga Tong pindah ke ibukota, Jakarta. Tahun  itu tepat  Bujang mulai masuk kuliah dan di terima di universitas ternama jurusan ekonomi. Bujang adalah anak angkat kesayangan Tauke Besar yang sudah  di persiapkan untuk menjadi  ketua keluarga Tong jika nanti Tauke Besar telah tiada. Bujang tumbuh menjadi sosok yang disegani di dunia hitam dengan julukan jagal nomor satu 'Si Babi Hutan' . Tidak seperti tukang jagal ternama di dunia hitam, Bujang menggunakan kejeniusan nya untuk membesarkan bisnis keluarga Tong.

Waktu itu, aku sedang menghadiri simposium teknologi kedokteran dunia. Aku sering menghadiri konvensi, seminar atau pertemuan seperti ini untuk mencari alternatif investasi bagi keluarga Tong. Ada banyak peneliti berkumpul, mereka mencari pendanaan penelitian teknologi medis masa depan. Satu-dua menarik minatku. Lewat perusahaan legal Tauke, dana bisa dikucurkan ke berbagai lembaga riset. Aku juga sering menghadiri pameran seni, mengikuti lelang, atau mengongkosi ekspedisi arkeologi, dan bentuk investasi pendidikan lainnya. Itu juga tugasku, sekaligus refreshing yang mengasyikkan. (Tuanku Imam, hal 303)

Konflik besar muncul ketika riset tentang chip pengintai yang di danai keluarga Tong di Singapura di curi oleh keluarga Lin dari Macau. Pengkhianatan orang dalam keluarga Tong bersama anak tertua keluarga Lin yang menuntut balas kematian ketua Lin berhasil membuat Tauke besar meninggal.

Dalam keadaan terdesak di pelarian muncullah Tuanku Imam (kakak mamak nya) yang menolong Bujang. Kehadiran Tuanku Imam mengembalikan kenangan pahit Bujang tentang mamak dan bapak nya, kesedihan Bujang karena tidak pernah berada di samping mereka ketika meninggal muncul kembali. Namun Tuanku Imam lah yang bisa menjawab ketakutan nya selama ini ketika suara adzan berkumandang.
"Peluklah semuanya, Agam. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu di sesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun? " (Suara Adzan, hal 339)

Tuanku Imam juga yang menyemangati Bujang untuk merebut kembali kekuasaan keluarga Tong.
".....Kau tahu kenapa namamu adalah Agam? Karena itu di ambil dari nama leluhur kita, Tuanku Imam Agam, seorang syahid, ulama besar dan panglima perang paling berani di seluruh Pulau Sumatera. Satu pekik takbir darinya, mampu merontokkan benteng-benteng penjajah Belanda. Samad yang menyematkan nama itu atas usul mamak kau". (Suara Adzan, hal 332)
"....Kau bisa melakukannya, karena kau adalah keturunan dua orang yang sangat penting di masa lalu. Kakek dari kakekmu adalah Tuanku Imam Agam, syahid, pejuang melawan penjajah Belanda. Satu lagi adalah perewa masyur, yang kemudian menetap di kampung kita. Dia memang punya masa lalu hitam, tapi dia kembali, menunjukkan bahwa semua orang bisa berubah". (Memeluk Erat, hal 341)

Riset Untuk Menulis
Saya acungi jempol untuk novel Pulang ini, di bandingkan dengan novel Rindu yang di tulis bang Darwis tahun kemarin. Di novel Pulang bang Darwis  memerlukan banyak riset/penelitian tentang negara-negara yang di singgahi Bujang, tentang seluk beluk samurai dan istilah-istilah nya, tentang dunia menembak dan istilah-istilah nya, tentang ekonomi (sesuai jurusan waktu bang Darwis kuliah) dan yang paling utama adalah riset/penelitian tentang dunia hitam bisnis antar benua yang lebih populer di sebut dunia konspirasi.

Momen yang pas saat bang Darwis menulis novel Pulang, pemilihan presiden negeri ini dengan berbagai opini yang di keluarkan oleh tim sukses masing-masing calon menjadikan novel Pulang ini tidak sekedar novel. Ya. menurut saya novel ini adalah novel berfikir karena genre action tidak menjadi menu utama yang ditulis bang Darwis. Ada tulisan-tulisan implisit yang sebenarnya bang Darwis ingin menggambarkan kondisi negeri ini sekarang.

Saran
Menurut saya ada sedikit dialog yang jika dibaca kurang pas. Penggunaan kata dalam percakapan antara Tuanku Imam dengan Bujang. Tuanku Imam yang di gambarkan berusia 80 tahun, tentu mempunyai gaya bahasa yang berbeda dengan Bujang yang berusia 35 tahun an. (Memeluk Erat, hal 333-338)
Dalam percakapan tersebut Tuanku Imam lebih baik konsisten mengatakan 'matahari terbit' tanpa di rubah dengan mengatakan 'sunrise' ketika menasehati Bujang 'Agam'. Penggunaan kata 'matahari terbit' yang konsisten menurut saya akan lebih menunjukkan kebijakan dan kewibawaan tokoh Tuanku Imam.
" Itu berarti kau setidaknya sudah memiliki 13.000 hari. Usiaku saat ini delapan puluh tahun, lebih banyak lagi hari yang kumiliki, 28.000 hari. Aku sudah memiliki 28.000 kali matahari terbit. Itu bukan jumlah yang sedikit. Beberapa sunrise kusaksikan dengan takjub, namun lebih banyak yang tidak, lewat begitu saja. nah, mau kita menyaksikannya atau tidak, matahari selalu terbit. mau ditutup mendung atau kabut, matahari juga tetap terbit. Mau kita menyadarinya atau tidak, matahari tetap terbit. 28.000 matahari terbit sepanjang hidupku".
Maaf, sepertinya tak pantas saya memberikan saran buat bang Darwis yang sudah dinobatkan sebagai penulis yang produktif di negeri ini. Namun saran saya,  mungkin hanya hal yang sepele, akan membantu bang Darwis menulis buku fiksi (novel) yang lebih bagus dan  mencerahkan lagi buat para pembaca.
Seperti pesan bang Darwis dalam sebuah seminar,"Novel itu fiksi (tidak nyata), yang nyata itu adalah implikasi dari novel tersebut untuk pembacanya menjadi lebih baik lagi".


Dan...
Sedikit resensi saya di atas tentu tidak akan bisa menggambarkan sepenuhnya cerita dari novel Pulang.
Bagaimana kehidupan Bujang sebelum tinggal bersama Tauke Muda?. Proses belajar Bujang hingga menjadi tukang pukul ternama yang di takuti lawan-lawan nya?. Siapa pengkhianat orang dalam keluarga Tong? Dan yang pasti ending dari novel Pulang seperti apa?
Semakin penasaran, pasti nya iya. Selamat mencari, membeli dan membaca novel Pulang dengan ketebalan 400 halaman. Siapkan juga tempat yang nyaman di kepala, karena pembaca akan di ajak bang Darwis untuk mengenal berbagai macam hal tentang  ekonomi, bela diri, exercise (latihan fisik), geografi, aeronautic dan masih banyak lagi.

Saya masih ingat ketika bang Darwis di tanya tips menulis oleh pembaca novel-novel nya, menurut pengalaman bang Darwis untuk menghasilkan sebuah paragraf yang makna nya bisa di baca oleh semua pembaca dia perlu membaca satu buah buku. Bisa di bayangkan untuk menghasilkan ribuan paragraf dalam 400 halaman novel Pulang ini, berapa buku yang sudah bang Darwis baca ?.

Terakhir tentu saya berharap bang Darwis meneruskan lagi menulis petualangan Bujang setelah pulang. Ending yang sengaja di tulis menggantung, membuat saya sebagai pembaca berharap pulang nya Bujang adalah pulang untuk kembali ke jalanNya dan menerapkan aturanNya.

"Berangkat, Edwin. Kita harus tiba di Hong Kong malam ini, aku ada urusan dengan Master Dragon yang belum selesai". (Epilog: Pulang, hal 400)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar