Rabu, 25 April 2018

[#NgajiIslamKaffah] : Inspirasi Kartini Bagi Muslimah Terkini

"Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang paling banyak (meriwayatkan) hadits dari Beliau (shallallahu 'alaihi wa Sallam) selain aku (Abu Hurairah), kecuali dari Abdullah bin Amr, karena ia dahulu menulis sedangkan aku tidak menulis." 
(HR. Imam Bukhari no.113)

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pahlawan perempuan selain  RA Kartini. Menulis, itulah yang membedakan ibu kartini dengan para pahlawan perempuan yang lain. 

Raden Adjeng Kartini lahir di  Jepara, Hindia Belanda pada tanggal 21 April 1979. Ayahnya adalah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang bupati Jepara dan ibunya, M. A. Ngasirah (istri pertama tetapi bukan istri utama) putri Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Ngadirono (guru agama di Telukawur, Jepara). Beliau di nobatkan sebagai pahlawan nasional pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat mempunyai 11 anak (dari semua istri-istrinya), RA kartini anak ke-5 dan anak perempuan tertua. Kakek RA Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV adalah bupati Jepara pertama yang memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya. Sampai usia 12 tahun, RA Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

Dunia RA Kartini : Membaca dan Menulis
Setelah usia 12 tahun, RA Kartini harus dipingit sesuai tradisi adat jawa. Sebagai putri ningrat dipingit adalah tahapan ke-priyayi-an yang harus dijalani sebelum menikah dengan seorang priyayi. Selama di rumah RA Kartini banyak membaca buku. Surat kabar Semarang De Locomotief yang di asuh Pieter Brooshooft, majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan, majalah wanita De Hollandsche Lelie itulah majalah dan surat kabar yang menjadi jendela dunia RA Kartini selama tidak bersekolah. Selain itu RA Kartini juga membaca buku Max Havelaar dan surat-surat cinta karya Multatuli, Novel De Stille Kraacht (kekuatan gaib) karya Louis Coperus, Die Waffen Nieder (Letakkan senjata) karya Berta Von Suttner, novel roman feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek,  novel bermutu tinggi  waktu itu karya Van Eeden juga novel karya Augusta de Witt. 
Semua bahan bacaan RA Kartini tersebut berbahasa belanda dan dibaca beliau sebelum usia 20 tahun.

Selain membaca RA Kartini juga mengirimkan tulisan nya dan dimuat di De Hollandsce Lelie. Seperti halnya netizen yang aktif daring (dunia maya), dengan quote yang sering ditulis dan di share di media sosial. 
Pada zaman itu, setelah membaca RA Kartini akan membuat catatan dari kutipan kalimat dari judul buku yang sudah di bacanya.

Hubungan keluarga Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan pemerintah Belanda sangat dekat. Kakak lelaki RA Kartini, RMP Sosrokartono setelah lulus dari sekolah H.B.S di Semarang melanjutkan belajar ke negeri Belanda di usia 21 tahun. RMP Sosrokartono dikenal jenius dan polyglot beliau menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa nusantara.   Informasi tentang Eropa dan emansipasi perempuan dibaca RA Kartini dari majalah, surat kabar dan buku yang sudah di baca nya. Kedekatan RA Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Belanda, terkabar lewat korespodensi.Tulisan dalam surat-surat beliau berisi tentang sosial, adat budaya, pendidikan juga agama.

RA Kartini dan Sang Kyai
Hubungan RA Kartini dengan perkembangan Islam di nusantara, khususnya Jawa Tengah bagian utara sangat dekat. Hal itu dikarenakan, kakek beliau dari jalur ibu adalah seorang kyai di daerah pantai telukawur, Jepara. Dua kedekatan emosional yang sangat kontradiktif bagi RA Kartini, antara pemerintah Belanda yang ingin tetap menjajah dan para ulama yang ingin negeri ini merdeka.
Awal dipingit, RA Kartini sangat ingin memperdalam agamanya, Islam. Di usia masih remaja (12 tahun an), beliau ingin sekali mengetahui arti dari bacaan Al Qur'an. Film RA Kartini tahun 1982 besutan sutradara Sjumandjaja, terdapat scene dimana RA Kartini (Yeni Rachman)  sangat menikmati bacaan Al Qur'an yang sedang dibaca ibunya (M. A Ngasirah) dan ingin sekali mengetahui artinya namun ibunya tidak tahu.
Hal tersebut mempengaruhi pemikiran RA Kartini terhadap agamanya.
" Al-Qur'an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Disini orang diajari membaca Al-Qur'an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya"
" Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hafal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya disana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian, Stella?"(Surat RA Kartini kepada Stella EH Zeehandelaar; 6 November 1899)
Surat tersebut ditulis saat usia RA Kartini 20 tahun.

Sampai pada pertemuan RA Kartini dengan kyai Sholeh Darat pada pengajian di pendopo rumah pamannya, bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Pada pengajian tersebut membahas tafsir surat Al Fatihah. Pertemuan tersebut terjadi sekitar tahun 1901, beberapa tahun sebelum RA Kartini menikah pada tahun 1903 dan setahun kemudian 1904 RA Kartini meninggal.
Di Film RA Kartini tahun 2017 besutan sutradara Hanung Bramantyo, terdapat scene pengajian kyai Sholeh Darat yang di hadiri juga oleh RA Kartini (Dian Sastro) dan saudara-saudara nya. Di film nya itu Hanung juga memvisualkan adegan dialog kyai Sholeh dengan RA Kartini yang ingin sekali mendalami terjemahan Al Qur'an.
"Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?", Kartini mengutarakan kegundahan nya
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian", Kyai Sholeh tertegun dan balik bertanya
"Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Qur'an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku," Jawab Kartini
"Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras oenerjemahan dan penafsiran Al Qur'an ke dalam bahasa Jawa. Bukanlah Al Qur'an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Pertemuan dengan  RA Kartini   menjadi  salah satu sebab segera dirampungkan tulisan tafsir Al Qur'an dalam huruf pegon (jawa arab) oleh Sang Kyai. Dan menjadi hadiah yang menakjubkan bagi RA Kartini menjelang hari pernikahan nya dengan bupati Rembang, K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

RA Kartini dikenal oleh pemerintah Belanda sebagai wanita pribumi yang cerdas dan kritis. Latar belakang keluarga RA Kartini dari jalur ayahnya, yang terbuka menerima hubungan kerjasama dengan pemerintah Belanda memungkinkan semua pemikiran yang sedang berkembang di dunia saat itu di cerap oleh beliau.

Tahun 1900-an, kondisi dimana dunia Islam sedang melemah. Dan telah muncul perang ideologi baru liberalisme di Eropa Barat dan Amerika Utara dengan sosialis di Eropa Timur dan Rusia. Hal ini membuat RA Kartini mencari apa yang terbaik dari semua pemikiran yang telah dibaca nya tersebut.

RA Kartini adalah cucu ulama besar di pantai Telukawur, Jepara. Ibadah mahdhoh seorang kyai yang tawadhu' dengan lisan  selalu mengucap dzikir kepada dzatNya yang Maha Segalanya dan tak lepas doa untuk keturunan nya agar selamat dunia akhirat. Bisa menjadi asbab, berubahnya pemikiran putri priyayi yang awalnya dekat dengan pemerintahan Belanda beserta pemikiran nya kembali kepada Al Qur'an.

"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan". (Surat RA Kartini kepada Nyonya Abendanon; 27 Oktober 1902)

" Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah...Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini...Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama kami Islam patut disukai". ( Surat RA Kartini kepada Nyonya Van Kol; 21 Juli 1902)

Inilah fase dimana pemikiran RA Kartini mulai tidak condong ke pemikiran barat. Semakin beliau istiqomah belajar tafsir Al Qur'an, RA Kartini berani melawan semua advice nasehat dari teman-teman nya di Belanda yang menuntun nya ke pemikiran yang bukan islam (liberal dan sosialis).
" Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al Qur'an) di samping kami...Kami tidak perlu mencari pelipur hati untuk manusia, kami hanya berpegang teguh pada Tangan Allah". (Surat RA Kartini kepada Tuan Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan Kerajinan dan Agama; 15 Agustus 1902)


Buku Api Sejarah 1 karya. Ahmad Mansur Suryanegara
(Foto koleksi pribadi)
RA Kartini:Muslimah Yang Menginspirasi
Dalam salah satu kajian majelis Al-Bahjah, Buya Yahya mendapat pertanyaan dari jama'ah perempuan, " Apakah peringatan hari (lahir) Kartini setiap bulan april  di sekolah-sekolah perlu di adakan  parade budaya daerah dan sanggul. Bahkan ada kontes pasangan kartini kartono yang bukan mahram berjalan di panggung dilihat penonton.  Bagaimana cara memperingati hari kartini sesuai syariatNya?" 

Menurut Buya Yahya, bukanlah emansipasi yang selama ini diopinikan media untuk di ikuti orang Islam khususnya muslimah. Karena emansipasi adalah pemikiran barat, dimana saat itu memang kaum perempuan di Eropa menjadi obyek yang tidak menyenangkan bagi laki-laki.
Islam sudah memuliakan wanita. Karena derajat wanita tiga kali lebih tinggi dibanding laki-laki.


Seperti yang telah ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya, ketika seorang sahabat bertanya," Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia." Rasul menjawab," Ibumu." Kemudian dia bertanya lagi," lalu siapa?" Rasul menjawab, "Ibumu." "Kemudian lagi, ya Rasul," tanya sahabat tersebut. Rasul menjawab,"Ibumu." Lalu, sahabat itu bertanya lagi," kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?". " Bapakmu," jawab Rasulullah SAW. 
[HR. Imam Bukhari No. 5971 dan Imam Muslim No.2548]

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, " Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mngerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya di alami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239. Al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Menurut Buya Yahya, semangat RA Kartini untuk belajar menuntut ilmu patut di contoh kaum muslimah. Karena menjadi seorang ibu, pendidik utama dan pertama anak-anak, seorang perempuan perlu untuk belajar (sekolah).

Hidup di akhir zaman, dimana banyaknya jumlah umat Islam bagaikan buih di lautan. Diperlukan keimanan yang kokoh (tauhid) agar kita selalu menaati syariatNya dan menjauhi laranganNya.
Itulah yang saat ini kita rasakan. Orang-orang kafir bersekutu memperebutkan bagian-bagian tubuh umat Islam itu. 

Musim berganti, orang nya pun berganti tetapi yang di perjuangkan masih sama. Antara yang haq dengan batil, antara yang benar dengan salah, antara yang taat dengan maksiat terhadap aturan Allah SWT.

Begitupun ketika zaman RA Kartini, waktu itu Islam sangat lemah apalagi di negeri yang terjajah. No free lunch, tidak ada makan siang gratis. Begitupun, usaha pemerintah Belanda mendekati keluarga ningrat di Jawa khususnya RA Kartini agar tunduk dan mengajak rakyat mengikuti aturan kolonial.

Namun, kondisi berbalik ketika Kalam Illahi sudah merasuk ke sanubari RA Kartini. Semangat pembelajar untuk membaca dan mengamalkan Al Qur'an adalah semangat yang perlu di contoh muslimah saat ini untuk melawan semua pemikiran selain Islam (sekuler, liberal, kapitalis, hedonis, freesex, narkoba, dll)

Prinsip yang teguh dan kuat, itulah gambaran RA Kartini dari surat-surat nya ketika beliau sudah mengenal dan mempelajari Al Qur'an. Dengan tegas beliau mengatakan tidak akan berpaling dari agamanya sejak lahir. Masya Allah
Tauhid yang kuat, diperoleh ketika kita mendekat dengan kalamNya. Serangan budaya barat dengan entertainment dan idol nya, jangan sampai membuat kita terlena dari belajar dan mengamalkan Al Qur'an.


Ketika tiga pertanyaan mendasar manusia sudah terpecahkan: Darimana, untuk apa dan kemana kita setelah alam dunia ini? Kita pun bertemu dengan sebuah jawaban.
Yaa Allah Yaa Rahman Yaa Rahim, itulah tujuan akhir dunia ini.

Perempuan muslimah yang dimuliakan dengan Islam. RA Kartini yang mendapatkan ketenangan jiwa dan kepuasan akal setelah mempelajari Al Qur'an karena sesuai fitrah. Menjadi motivasi bagi kita (muslimah) untuk meningkatkan Mahabbatullah wa Rasulullah (Cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW).

Jika sisa umurNya hingga hari ini, kita masih galau di alam fana yang sebentar. Maka sudah seharusnya kita mulai belajar  selalu takut jika melanggar aturanNya dan berusaha  sepenuh hati untuk menjalankan syariatNya. 
Karena kita yakin  alam akhirat yang selamanya, kita berharap berat timbangan amal baik kelak di yaumil hisab. 

Wallahu'alam bish showab


Sumber bacaan:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
2. https://www.youtube.com/watch?v=jWTDc_QfLJk
3. Buku Api Sejarah 1 hal. 285 RA Kartini menolak politik kristenisasi ; karya. Ahmad Mansur Suryanegara






1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...