Sabtu, 09 November 2019

[Resensi #NovelTereLiye] : Si Anak Badai, Anak- Anak bahari Cinta Negeri, Mandiri dan Pemberani

Cover Si Anak Badai 


Pengarang    : Tere Liye
ISBN            : 978-602-5734-93-9
Terbit            : Jakarta ; Republika Penerbit, 2019
Halaman       : 322 halaman
Harga            : Rp. 70.000,-  Rp. 56.000,-
Berat             : Gram
Dimensi        : 13,5 cm x 20,5  cm
Cover            : Soft Cover

Badai kembali membungkus kampung kami. Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah.

Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai, riak permukaan muara, dan deru ombak lautan. Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik mereka, hari-hari penuh keceriaan dan petualangan seru.

Cerita seru Za dan kawan-kawannya dari kampung Muara Monowa, berada persis di muara sunga besar yang menjadi perlintasan kapal-kapal menuju desa atau kota-kota berikutnya. Dengan tekad sebesar badai, bertualang mencari pembuktian atas rekayasa kasus yang mengancam kampung mereka.



Koleksi Literasi Tere Liye ( Foto Pribadi)

Bang Darwis yang lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye bukan nama baru di dunia penulisan negeri ini. Puluhan judul novel di tulis bang Darwis. Mulai dari tema keluarga, future (masa depan), histori (sejarah), petualangan (detektif), romantis, pendidikan, psywar (perang dunia mata-mata/intelijen) sampai anak-anak. Saya salah satu pembaca tulisan novel bang darwis yang selalu penasaran apa tema yang di tulis bang Darwis untuk tulisan novel berikutnya. Dan inilah salah satu novel bang Darwis Si Anak Badai dari serial novel anak nusantara yang di tulis. 

TEMA
Si Anak Badai sebagai salah satu judul serial novel anak nusantara ini bertema petualangan. Menceritakan tentang kehidupan kampung nelayan dengan segala aktivitasnya yang utama adalah mencari ikan. Di awali dengan kisah Za (Zaenal) dengan geng teman bermain nya, Za dengan keluarganya, Za dengan para penduduk di kampung Muara Monowa sampai Za dengan petualangan paling seru di novel ini. Geng Si Anak Badai menyelamatkan kampung Muara Monowa dari oknum yang ingin merusak alam untuk kepentingan kapitalis (bisnis).

Alur atau Jalan Cerita
Bang Darwis menuliskan novel Si Anak Badai dengan alur maju. Dari bagian pertama sampai bagian ke-25 diceritakan mengalir sesuai berjalannya waktu.

Latar atau Setting
Kisah petualangan Za dan teman-temannya ini di Muara Monowa. Muara adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut atau sungai yang dekat dengan laut. Kampung Muara Monowa adalah lalu lintas perairan yang strategis karena di lalui kapal-kapal, baik kapal kargo/barang maupun kapal penumpang. Karena tempatnya yang strategis ini, kampung Muara Monowa terancam oleh investor yang ingin mengambil keuntungan tanpa melihat kondisi lingkungan dan AMDAL.

 Tokoh dan Penokohan
Za (Zaenal) adalah tokoh utama novel Si Anak Badai ini. Tokoh Za digambarkan seperti umumnya anak menjelang remaja kelas 6 SD. Bukan anak yang menonjol dan bukan anak yang pendiam. Za, digambarkan sebagai anak yang punya ide cemerlang untuk menggagalkan oknum yang tidak bertanggungjawab yang melakukan berbagai cara (rekayasa/manipulasi/kebohongan) untuk melancarkan nafsu dunia mereka, menjadikan kampung Muara Monowa pelabuhan besar. 
Tokoh-tokoh lain nya ada keluarga Za, yang terdiri dari bapak seorang pegawai kecamatan. Mamak, ibu rumah tangga yang mempunyai usaha di rumah menjahit pakaian. Dua adik Za, Fatah (kelas 5 SD) dan Thiyah.
Teman satu geng Za, ada Awang yang jago menyelam, Malim yang mempunyai cita-cita menjadi saudagar besar dan Ode, si penggembira di geng Si Anak Badai. Karena tanpa Ode petualangan geng Si Anak Badai kurang seru. Tidak ada anak yang asal nyeletuk bicara dan setia kawan mau menemani kemanapun geng ini berpetualang.
Ada juga tokoh-tokoh di kampung Muara Monowa yang lain. Pak Kapten,yang di tuakan di kampung Muara Monowa, Paman Deham anak nya pak kapten, dan Rahma cucu pak Kapten.
Wak Sidik, kepala kampung Muara Monowa. Wak Minah istrinya dan Mutia anak nya.
Pak Guru Rudi guru mengaji anak-anak kampung Muara Monowa. Bu Rum, guru walikelas 6 geng Si Anak Badai. Pak Alex, pengusaha nasional yang ingin membangun pelabuhan besar di kampung Muara Monowa. Tokoh advokat legend yang bukan fiktif, Adnan Buyung Nasution ikut mengambil peran di novel ini. Pak camat Tiong, pak Puguh penjaga kantor kecamatan. Dan masih banyak lagi  tokoh pendukung di novel Si Anak Badai ini yang  membuat petualangan Za dan geng nya semakin seru.

Sudut Pandang
Novel Si Anak Badai ini bang Darwis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama. Hal ini di bisa ditemui ketika membaca di bagian pertama buku ini.
" Aku berdiri di geladak utama kapal yang luas dengan lantai kayu yang terasa licin". (Halaman 1, Alinea 1)

Gaya Penulisan
Novel Si Anak Badai ini berbeda dengan novel bang Darwis yang lain. Dari ketinggian bahasa dan pemakaian kata yang sering digunakan bang Darwis. Novel Si Anak Badai lebih mudah dipahami dan sederhana. Gaya tulisan yang tidak terlalu berlebihan sesuai dengan keadaan riil nya. Menjadikan novel ini mudah dibaca dan dipahami oleh anak usia SD. 

Amanat
Kelebihan
Novel petualangan tentu akan memberikan pengalaman  positif bagi  pembaca setelah selesai membacanya. Begitupun setelah membaca novel Si Anak Badai ini. Pesan moral dan harapan bang Darwis kepada anak-anak di nusantara tercinta ini antara lain

# Cinta Negeri
Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa, negeri kepulauan yang di apit dua samudra besar yaitu samudra Hindia dan samudra Pasifik. Indonesia yang subur, kaya akan sumber daya alam darat dan bahari. Tentu menjadi narasi yang akan tertulis dan terucap turun temurun ke anak cucu. Mulai saya kecil sampai saya sudah mempunyai anak. 
Tidak salah memang, kebanggaan yang dimiliki anak-anak nusantara (termasuk saya). Yang menjadi pekerjaan rumah, apakah bisa anak-anak nusantara ini mengelola, merawat dan menjaga kekayaan alam anugerah Yang Maha Rahmah.
Novel Si Anak Badai ini menunjukkan kepada pembaca, ikhtiar Za dan geng nya untuk menyelamatkan kampung kesayangan mereka dari ulah rekayasa si gila dunia. Itulah fakta yang terjadi di negeri nusantara ini. 
Nasi belum menjadi bubur, masih ada harapan untuk menanamkan rasa cinta negeri ini dengan menjaga kekayaan alam nya baik yang ada di daratan maupun bahari.

# mandiri
Kebiasaan anak-anak di kampung Muara Monowa adalah menyelam mengambil koin yang dilemparkan para penumpang kapal yang melintasi muara. Termasuk Za, adiknya Fatah dan 3 orang teman nya Awang, Malim dan Ode. Anak-anak mengumpulkan uang untuk uang jajan agar tidak minta ke orangtua. Ada juga Ode yang mengumpulkan uang untuk kebutuhan sekolah nya nanti di SMP. Kemandirian anak-anak kampung Muara Monowa ini patut di tiru anak-anak nusantara yang lain. Kemandiran yang tidak dalam hal mendapatkan materi  saja, tetapi mandiri dalam belajar hidup. Bisa mandiri ke masjid untuk berjamaah sholat tanpa di suruh orang tua. Dan mandiri membantu ibu di dapur bagi anak perempuan.

# Pemberani
Kehidupan anak-anak bahari tentu berbeda dengan anak-anak di daratan. Anak-anak yang tidak pernah melihat laut (termasuk saya) memiliki tingkat survive yang berbeda dibanding anak-anak bahari. Mereka lebih unggul tentunya, Di Novel Si Anak Badai ini, anak-anak kampung Muara Monowa yang laki-laki pasti bisa berenang dan menyelam. Karena memang itulah tempat bermain nya di lautan.
 Za dan gengnya Si Anak Badai memiliki petualangan yang membutuhkan nyali dan menjadi taruhan hidup. Seperti ketika ikut  paman Deham melaut memancing ikan cakalang dan terjadi badai besar. (Bagian 21. Badai, Halaman 241)
Dan keberanian mencari barang bukti yang menyangkut kehidupan kampung Muara Monowa dari ulah oknum yang berambisi membuat pelabuhan besar di kampung mereka. (Bagian 25. Bukti Tak terbantahkan, Halaman 303)

# Setia Kawan
Tentu setia kawan di sini dalam hal kebaikan. Bukan setia kawan ketika ada kawan yang ingin berbuat jahat atau curang. Naudzubillah min dzalik.
Malim, salah satu anggota geng Si Anak Badai merasa tidak penting belajar di sekolah karena dia bisa kaya dan menjadi saudagar besar jika mengumpulkan koin-koin yang dilempar penumpang kapal di muara. Tak lelah dan tak gentar Za beserta dua geng Si Anak Badai yang lain (Ode dan Awang) membujuk Malim agar kembali ke sekolah karena sebentar lagi mereka ujian nasional lulus SD. itulah pentingnya kawan yang baik, yang bisa membersamai dan mengingatkan ketika diri alpa dan khilaf . (Bagian 17. Karena Kami Temanmu, Halaman 195)

# Gotong Royong dan Kerjasama
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Peribahasa yang sering kita dengar ketika belajar bahasa Indonesia. Adalah budaya positif negeri nusantara ini. Saling tolong menolong dan kerjasama untuk kepentingan bersama. Di novel Si Anak Badai, jembatan yang menghubungkan perkampungan dengan masjid kampung  roboh. Warga kampung Muara Monowa bergotong royong membangun kembali jembatan itu. (Bagian 15. Berat Sama Di pikul, Halaman 175)

# Maghrib Mengaji
Hal langka atau mungkin sudah jarang ada, melihat masjid setelah sholat maghrib ada anak-anak mengaji Al Qur'an. Sejak listrik bisa menerangi pelosok negeri nusantara. Dan sejak saat itu, alat-alat elektronik mulai ada di rumah-rumah. 
Benda kotak mati di dalam nya ada orang-orang entertaint membius mata anak-anak. Sampai ke jaman milenial, benda empat inchi digenggam dua tangan dengan jari-jari aktif menekan layar. Inilah zaman yang sudah digambarkan Rasulullah SAW.
Di Novel Si Anak Badai ini, bang Darwis menceritakan aktifitas rutin anak-anak kampung Muara Monowa mengaji dengan murojaah surat-surat dalam Al Qur'an kepada pak guru Rudi.
Sungguh kehidupan yang seharusnya dilakukan bagi anak-anak muslim dimanapun di nusantara ini.

#Sholat Berjamaah
Tua muda anak anak maupun orang dewasa di kampung Muara Monowa selalu sholat berjamaah di masjid kampung. Itulah kehidupan religi yang dituliskan bang Darwis di novel Si Anak Badai. Sungguh ajakan yang harusnya di ikuti oleh laki-laki muslim. Harusnya berjamaah sholat di masjid.
 Akhir zaman kini sudah,sesuai hadits Rasulullah SAW. Banyak Masjid megah dibangun, tetapi kosong tidak ada yang memakmurkannya.
Semoga setelah membaca novel Si Anak Badai ini, bagi laki-laki muslim segera sadar untuk selalu sholat berjamaah di masjid. Aamiin


Kekurangan
Sebagai penikmat tulisan novel bang Darwis Tere Liye. Saya masih belum move on dari tiga novel terbaik bang Darwis. Tentang Kamu, Rindu dan Pulang. Membaca novel Si Anak Badai ini, saya sempat tidak semangat membaca karena merasa ada yang kurang dari novel ini.
Jalan cerita yang datar, bahasa yang ringan seperti kehidupan sehari-hari membuat saya menghentikan membaca novel ini sejenak.

Untuk tiga novel terbaik bang Darwis versi saya. Ketika membaca halaman 1, saya tidak sabar membaca halaman selanjutnya.
Di novel Si Anak badai saya baru semangat menyelesaikan membaca di bagian 20. Hujan Cakalang halaman 220. Iya, karena saya baru menemukan inilah bang Darwis Tere Liye yang novelnya keren dan bagus.

Untuk setting lokasi yang tidak jelas. Memang bukan pertama kali bang Darwis menulis novel yang nama-nama daerahnya tidak nyata. Tapi saya termasuk pembaca yang suka jika penulis bisa mendeskripsikan lokasi setting tempat sesuai dengan kenyataan. Dan untuk novel Tentang Kamu bang Darwis memang juara, berhasil membuat saya membuka google map untuk melihat lokasi-lokasi yang di ceritakan di novel tersebut.


Baiklah, mungkin ini saja resensi novel Si Anak Badai bang Darwis Tere Liye. 
Karya-karya bang Darwis selalu di tunggu penikmat literasi negeri ini, saya salah satunya. 
Semoga dengan resensi  saya ini, bang Darwis tetap menulis bacaan yang mencerdaskan anak-anak nusantara. Aamiin

Novel Si Anak Badai  mengingatkan saya dengan buku novel bacaan petualangan yang saya baca waktu SD.  Serial lima sekawan yang terdiri dari 4 saudara kandung dan sepupu dengan seekor anjing mereka. Jika setting lima sekawan bertualang adalah negeri Britania Raya, seting cerita Si Anak Badai adalah wilayah bahari nusantara.

Dan sungguh luar biasa ketika bang Darwis membuat serial novel anak nusantara. Selain Si Anak Badai masih ada judul Si Anak Cahaya, Si Anak Pintar, Si Anak pemberani, Si Anak Kuat dan Si Anak Spesial. 
Bagi saya sangat penasaran untuk memiliki koleksi serial novel anak nusantara ini setelah membaca Si Anak Badai. Begitupun para pembaca setia novel bang Darwis, tentu ingin mengoleksinya juga.

Serial novel anak nusantara ini bisa dibeli di bukurepublika.id. Jangan beli yang kw, mari mulai dari kita beli koleksi literasi di rumah dengan yang asli. 

Seri Anak Nusantara




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...