Sabtu, 25 April 2015

#TiketGratisTraveloka : Seandainya Saya Di Kasih Uang 10 Juta Untuk Travelling.....

Bepergian dengan memakai jalur udara, saat ini sangat mudah di lakukan.
Begitulah pengalaman saya dan keluarga awal bulan April ini, liburan tanggal merah kami manfaatkan untuk silaturahim ke rumah orang tua di Kudus.
Liburan yang singkat dimana anak-anak ijin tidak masuk sekolah, harus membuat anak-anak nyaman di perjalanan karena setelah sampai di rumah Jakarta mereka harus masuk sekolah lagi.

Beli Tiket Pesawat, Ke Traveloka Saja....
Suami saya sering bepergian ke luar kota dengan menggunakan pesawat. Tugas dinas baik mendadak maupun tidak, suami saya tidak repot dan bingung lagi mencari tiket pesawat. Banyak sekali biro perjalanan online saat ini. Dan suami saya sengaja men-setting smartphone nya dengan aplikasi traveloka untuk memudahkan membeli tiket pesawat. Simple, itulah alasan nya.
Begitupun, ketika pulang silaturahim ke rumah orang tua kali ini. Setelah sampai di rumah orang tua di lereng gunung Muria, di mana jarak ke kota nya sekitar l5 km kami tidak bingung lagi membeli tiket pesawat untuk balik ke Jakarta.
Tinggal klik aplikasi gambar burung godwit, kami tulis kota asal dan kota tujuan di menu tiket pesawat akan muncul banyak pilihan maskapai yang sesuai dengan keuangan yang kami miliki dan waktu yang kami inginkan.




Seandainya Saya Di kasih Uang 10 juta.....
Alhamdulillah, asyiiiik liburan bersama anak-anak (yang jumlahnya empat) sudah lama kami idam-idamkan. Kenangan bersama keluarga liburan ke Bali tahun 2011, sangat membekas di ingatan anak-anak. Mereka ingin sekali liburan kembali ke tempat yang bisa bermain pasir dan berenang di pantai.
Kali ini saya ingin mengajak anak-anak ke tempat wisata air yang lebih unik dari liburan ke pantai mereka yang dulu. Ketenangan dan keunikan pantai nya, sudah tergambar di film tetralogis Laskar Pelangi. Yach, saya ingin mengajak anak-anak berlibur ke Kepulauan Bangka Belitung, tanah kelahiran Si Ikal dan teman-teman nya.
Seperti biasa, saya akan membeli tiket pesawat di traveloka melalui smartphone yang sudah saya download aplikasi nya. Kali ini saya membeli di maskapai yang jargon nya 'Garuda Indonesia Garuda Experience' dengan alasan kenyamanan anak-anak selama di perjalanan.



Untuk praktisnya, saya juga membeli tiket balik ke jakarta dengan pesawat yang nyaman buat anak-anak dan bisa membuat mereka lebih fresh ketika esok nya harus berangkat sekolah lagi.



Karena bujet tidak begitu banyak, saya pesan hotel yang dana nya mencukupi. Pilihan saya dan keluarga jatuh pada hotel Santika Bangka.



Kesan Menggunakan Traveloka App
"Tadi kalian sudah beli tiket?," Tanya mak-e ketika kami di rumah Kudus.
"Sampun...sudah mak, besok tinggal ke bandara naik pesawat jam 20.00", jawab saya
" Lhooo....piye bagaimana kok bisa?", jawab mak-e tidak percaya
"Hehehehe...lewat online mak, tumbas beli di traveloka dapat harga 500 ribuan per kursi", saya menjelaskan ke mak-e.
Keren, amazing lah kata anak muda sekarang (ehem, karena saya juga masih muda hehehe). Praktis, gampang tidak repot apalagi di Kudus, saya dan suami harus turun gunung, jarak rumah ke kota sekitar 15 km. Kami bisa menghemat ongkos kendaraan untuk perjalanan membeli tiket dan juga waktu.
Aplikasi traveloka pun mudah. Tidak merepotkan dan membutuhkan data yang banyak untuk pembelian tiket nya. Tampilan menu nya yang sederhana membuat saya yang awam pun  bisa menggunakan nya.
Harga tiket nya, woow lebih murah di banding dengan biro perjalanan online yang lain. Dan traveloka sering mengadakan promo-promo, beruntung sekali pembelian kami awal bulan April kemarin. Karena traveloka sedang promo diskon 100 ribu setiap transaksi di atas 500 ribu. Alhamdulillah

Kesimpulan Biaya
  • Tiket Garuda Indonesia CGK - PGK untuk 6 orang Rp. 4.163.043
  • Tiket Garuda Indonesia PGK - CGK untuk 6 orang Rp. 4.937.064
  • Menginap di Hotel Santika Bangka selama 2 malam Rp. 869.117
  • Bujet 10 juta yang tersisa Rp. 30.776





Baca Selanjutnya ...

Selasa, 21 April 2015

#K3BKartinian : Ibu (mertua) ku, Inginku Kelak Sepertimu.....

Dulu....
Waktu saya masih kecil, ada seorang nenek sepuh sebut saja mbah Mo yang mempunyai anak banyak dan anak-anak nya menikah dengan anak-anak di desa nya sendiri. Jarak rumah masing-masing besan mungkin hampir berdekatan. Mbah Mo, adalah nenek yang kaya dan banyak bicara nya (baca. cerewet). Jika salah satu menantu nya ada yang berbuat kesalahan walaupun sepele, akan di cerita kan ke tetangga-tetangga nya. Bisa di bayangkan (saat itu), nama mbah Mo menjadi tenar di desa saya. Bukan karena cerita positif tentang beliau, tetapi cerita negatif tentang beliau di jadikan ibu-ibu untuk menakuti anak gadisnya.
" Awas ya ga nurut sama ibu, nanti ibu doa kan dapat mertua yang galak seperti mbah Mo...."
Hahahaha....lucu tapi ampuh juga untuk sejenak (mungkin bisa mendalam) para gadis di desa saya, agar tidak berani melawan orang tua.
Dan, saya termasuk salah satu anak gadis di desa saya yang akhirnya selalu berdoa di setiap sujud padaNya agar diberi kan keluarga baru, keluarga calon suami saya nanti yang baik hati dan sabar.
Bismillah.....


Dini hari di lereng gunung Muria yang dingin nya air masih enggan kulit untuk menyentuhnya.
Seperti biasa, terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Dan itu pasti mak-e yang hampir tidak pernah lupa untuk mengetuk pintu-pintu rahmat dan berkahNya di sepertiga malamNya.
Fisik yang sudah melemah, pasca sakit stroke ringan yang di alami  mak-e hampir empat tahun yang lalu, tak membuat mak-e melupakan ritual dini hari tersebut. Saya yakin selain nama suami (anak nya) ada nama saya yang terselip dalam doa nya......#mulai mbrebes mili, hiks

Sebagai ibu, mak-e adalah ibu yang tangguh, baik hati dan sabar. Hal itu, saya ketahui dari cerita suami dan bapak mertua. Mak-e menikah muda setelah lulus sekolah dasar, dua tahun kemudian berturut-turut mak-e melahirkan lima amanahNya. Suami saya adalah anak kedua mak-e dari lima amanahNya.
Sebagai petani, bapak dan mak-e mengolah kebun nya sendiri. Saat ini, selain kebun di tanami tanaman herbal dan buah-buahan. Bapak dan mak-e memelihara ribuan ayam petelur untuk di jual telur nya.

Sebagai orang tua, nasehat dan kasih sayang mak-e tidak hanya secara batin saja. Secara lahir, mak-e dan bapak adalah orang tua yang tidak pernah menyusahkan anak-anak nya. Justru kadang-kadang mereka memberikan materi kepada anak-anak nya. Masya Allah....

Pasca sakit stroke empat tahun yang lalu, mak-e rutin berobat ke salah satu dokter syaraf terkenal di daerah Kudus. Setiap bulan mak-e harus mengkonsumsi obat yang harga nya satu jutaan, tergantung kondisi mak-e ketika bertemu dan sharing sakitnya dengan dokter.
Alhamdulillah, Allah masih memberikan nikmat rizkiNya. Sampai saat ini, mak-e tidak pernah meminta bantuan ke anak-anak nya. Kadang-kadang, ketika kami pulang silaturahim ke Kudus. Kami akan membelikan obat-obatan tersebut ke apotik langganan mak-e, tapi kadang-kadang mak-e tidak mau di belikan dan mengganti dengan uang beliau. #mulai mbrebes mili lagi, hiks



Alhamdulillah, awal bulan April ini kami sekeluarga bisa silaturahim ke rumah orang tua di Kudus. Walaupun sebentar, saya melihat kebahagiaan dan senyum mak-e bercanda bermain dengan ke-empat cucu nya yang saat ini tinggal jauh dari rumah.
Semoga Allah selalu memberikan nikmat sehat dan rizkiNya agar kami yang saat ini mengadu nasib dengan para urbaners di megapolitan Jakarta ini bisa sering pulang silaturahim dan membahagiakan mak-e...aamiin







Baca Selanjutnya ...

Sabtu, 11 April 2015

[Cagar Budaya Jawa Tengah] Makam Sunan Muria : Peristirahatan Terakhir Sang Wali, Pengingat Kampung Abadi

"...Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki..."
[Inilah Pidato Lengkap Sultan Pada Pembukaan KUUI-VI, krjogja.com]
Bismillah....
Tak terasa hampir satu dekade saya menapaki jalanan pantura Jawa Tengah menuju rumah mbah nya anak-anak di lereng gunung Muria. Dulu, tak pernah terbayangkan bisa menikmati nikmat iman dan Islam yang tersebar di tanah Jawa ini berkat dakwah para walisongo yang terpusat di tengah nya pulau jawa, yakni di Jawa Tengah bagian utara ini.

Bukan rahasia lagi,  sudah masyur hingga seluruh nusantara bahkan luar negeri, umat Islam yang mayoritas ada di Indonesia ini sangat antusias mengunjungi makam para walisongo. Wisata ziarah ke makam para walisongo adalah perjalanan lahir dan batin dengan tujuan utama adalah semakin mendekatkan diri kepada Sang Illahi, Allah SWT. Perjalanan yang butuh waktu bagi para wisatawan tak akan terasa jika sudah sampai ke tempat makam para walisongo.

Ada tiga makam wali dari sembilan walisongo yang ada di provinsi Jawa Tengah. Makam sunan Kalijaga di kabupaten Demak. Dan makam sunan Kudus dan sunan Muria di kabupaten Kudus. Menurut silsilah, ketiga para walisongo tersebut mempunyai kekerabatan yang sangat dekat. Sunan Kudus dan sunan Muria adalah putra sunan Kalijaga dengan Dewi Soejinah ( putri sunan Ngudung).


Para Walisongo, sebagai seorang dai (ulama) mempunyai syaksiyah Islamiyyah (1) dan nafsiyah Islam (2) yang tinggi. Dengan mayoritas masyarakat yang saat itu masih menganut kepercayaan Hindu, Budha dan animisme. Para walisongo bisa mengajak masyarakat baik dari kalangan rakyat biasa hingga bangsawan dengan sukarela memeluk agama Islam. Masya Allah.

Para Walisongo, masing-masing mempunyai uslub (3) mensyiarkan Islam ke masyarakat pulau Jawa saat itu. Ada yang berdakwah di kalangan bangsawan dan kaum brahmana dan ada juga yang berdakwah di kalangan petani, pedagang, nelayan dan rakyat biasa. Raden Umar Said, putra sunan Kalijaga dikenal terampil  mengolah tanah bercocok tanam, dekat dengan nelayan dan piawai berdagang. Hal tersebut membuat beliau nyaman mensyiarkan ajaran Islam yang kaaffah ke masyarakat golongan bawah.



Raden Umar Said (Sunan Muria)
Foto di ambil di sini
Raden Umar Said, memilih mendidik dan mensyiarkan Islam di daerah gunung yang di kenal oleh masyarakat dengan sebutan Muria. Konon, nama Muria berasal dari nama Moria (bahasa Ibrani) yaitu nama gunung di dekat Yerusalem (Palestina) yang terdapat tempat pengurbanan nabi Ishak as.
Karena tinggal di gunung Muria, nama beliau lebih di kenal dengan sebutan sunan Muria.

Alhamdulillah....
Libur tanggal merah awal bulan April ini, saya sekeluarga masih di berikan nikmat umur dan rizkiNya, sehingga kami bisa silaturahim dengan orang tua di lereng gunung Muria, tepat nya di desa Kajar tetangga dengan desa Colo dimana makam sunan Muria berada.

Rumah mbah nya anak-anak yang tepat di pinggir jalan raya sunan Muria KM 13 tidak pernah sepi di lalui bus-bus antar kota antar provinsi yang membawa rombongan wisatawan religi berziarah ke makam sunan Muria. Walaupun rumah dekat dengan makam sunan Muria, kami jarang berkunjung sampai masuk ke makam kanjeng sunan jika pulang kampung. Kami cukup menikmati pemandangan gunung Muria di desa Colo tanpa masuk ke makam dengan menapaki 432 anak tangga nya atau dengan jalur ekspress, naik ojek tidak perlu capek, hehehe.

Berbeda dengan pulang kampung kali ini, saya mengajak suami untuk pergi ke wisata sunan Muria masuk sampai ke makam kanjeng sunan. Hal yang tidak mudah buat saya, sebagai ibu dari empat amanahNya, apakah saya membawa semua anak-anak atau hanya beberapa yang saya ajak. Alhamdulillah, dua amanahNya sedang menjaga toko bulek nya. Akhirnya, saya dan suami hanya mengajak dua dari empat amanahNya untuk ikut bersama melihat lebih dalam ke areal makam kanjeng Sunan di Colo.

Masya Allah....
Sejak terakhir saya berkunjung ke makam Sunan Muria pada tahun 2006, saat ini sudah banyak perbedaan fasilitas sarana dan prasarana yang  di bangun yayasan pengelola makam sunan Muria. Sebagai perantau yang tidak menetap di desa ini, saya bisa membandingkan bagaimana Pemda setempat dan pengelola serius membangun dan memberikan pelayanan maksimal kepada para wisatawan peziarah di bandingkan dengan daerah  lain yang pernah saya kunjungi.



432 anak tangga yang siap di jejaki langkah para peziarah
Foto koleksi pribadi
Keramahan dan kearifan penduduk lokal sangat terasa di tempat wisata religi ini. Hal ini tentu menguntungkan baik bagi para wisatawan, pengelola, Pemda dan masyarakat desa Colo. Kekhusyukan Ibadah di dapat para wisatawan dan materi yang bisa mensejahterakan masyarakat sekitar makam Sunan Muria pun di peroleh. Tak susah mencari bukti, karena terlihat dari rumah-rumah penduduk yang selalu di bangun karena kebanyakan mereka belanja material bangunan di toko bangunan bapak nya ponakan-ponakan saya, Alhamdulillah wa syukurillah...:)

Pintu masuk ke areal makam kanjeng sunan Muria dari jalur belakang (naik ojeg)
Foto koleksi pribadi
Dan sebagai pengunjung makam kanjeng Sunan yang rumah nya tidak jauh, saya dan suami tidak perlu memarkir kendaraan roda dua ke tempat penitipan, suami cukup menyimpan di dekat rumah yang sudah di kenal nya. Kami perlu membeli kantong kresek lima ratus rupiah saja  sebagai tempat sandal selama kami masuk ke areal makam karena alas kaki harus di lepas.


Aturan dan penunjuk jalan yang jelas di areal makam kanjeng Sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Tempat wudlu sebelum naik ke makam kanjeng sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Di dalam areal makam, bangunan yang tertata rapi, tanda dan simbol tulisan yang jelas bagi pengunjung, kebersihan yang di jaga serta keramahan para juru tamu membuat saya nyaman dan khusyuk berdoa kepadaNya di tempat peristirahatan kanjeng Sunan ini.
" Dari mana pak...bu?", tanya juru tamu yang umur nya sekitar setengah abad
" Sumenep....", jawab tamu di depan saya.
" Dari mana bu?", tanya juru tamu ke saya
" Kajar...pak", jawab saya
" ouw tonggo piyambak....monggo....", bapak juru tamu tersebut mempersilahkan kami masuk ke dalam.

Makam kanjeng sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billaah...
Tiada daya dan kekuatan selain hanya dari pertolongan Allah SWT....
Begitulah kesan yang saya peroleh dari wisata religi ke makam sunan Muria. Kanjeng sunan Muria pasti  lah memiliki fisik yang kuat karena memilih tempat padepokan untuk mendidik murid-murid nya di gunung Muria yang mempunyai jalur tempuh tidak mudah, karena harus mendaki ke puncak nya. Sedangkan aktivitas kanjeng Sunan yang harus turun gunung bertemu dengan masyarakat untuk syiar Islam tidak pernah berhenti hingga ajal beliau di panggil Sang Illahi.

Jalan menuju masjid sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Jalan menuju makam kerabat kanjeng sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Dan tentu selalu akan  menjadi pengingat bagi para wisatawan peziarah makam kanjeng sunan Muria tentang makna arti hidup di bumiNya yang fana (sementara), yang tersurat lewat tembang Sinom yang di ciptakan oleh kanjeng sunan.
Nulodho laku utomo
Tumrape wong tanah Jawi
Wong agung ing ngeksi ganda
Panembahan Senopati kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinepsu ing tapa bronto
Tanapi ing siyang ratri
Amemangun Karya nak tyas ing sesama

Artinya (kurang lebih) adalah pesan kanjeng sunan Muria untuk meneladani sikap dan cara hidup Panembahan Senopati, Sultan pertama kerajaan Mataram yang selalu mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT dan berbuat baik kepada semua rakyat nya.

Juga dalam tembang kinanti  yang di ciptakan oleh kanjeng sunan Muria.
Podho gulangen ing kalbu
Ing sasmito amrih lantip
Aja pijer mangan nendra
Kaprawiran den kaesti
Pasunen sarironiro
Sudanen dhahar lan guling

Artinya (kurang lebih) adalah pesan kanjeng sunan Muria untuk melatih menjaga hati yang bersih, selalu belajar menjadi insan kamil (4), jangan sampai bermalas-malasan, harus semangat menjalani nikmat hidupNya dan mengurangi makan  serta tidur.


Lorong menuju pintu keluar  makam kanjeng sunan Muria yang bersih
dengan view kios-kios suvenir yang tertata rapi
Foto koleksi pribadi
Dan sebagai penutup tulisan ....
Saya berharap tempat peristirahatan terakhir kanjeng sunan Muria ini selalu di  rawat dan di jaga sarana  prasarana nya, sehingga tetap membuat nyaman para wisatawan peziarah dari seluruh nusantara dan luar negeri. Hal tersebut adalah sebuah amanah yang mulia dan mendatangkan berkahNya bagi pengelola dan juga Pemda setempat (Kabupaten Kudus).

Bagi para peziarah, dengan mengunjungi makam kanjeng sunan Muria, hendak nya kita selalu ingat bahwa hidup dan ber-ikhtiar mencari dunia sekuat dan sebanyak apapun, kita tidak akan selama nya hidup di alam fanaNya ini.
Sebagai hambaNya  seharusnya kita sudah bisa menjawab tiga pertanyaan besar dalam menjalani nikmat hidupNya ini.
# Dari mana kita hidup?
# Untuk apa kita hidup?

# Dan akan kemana setelah kita hidup?
Semua jawaban dari pertanyaan besar dan mendasar manusia tersebut adalah Allah SWT.
Nikmat hidupNya berasal dari Allah SWT, selama hidup harus sesuai dan menjalankan syariatNya, dan pasti kita tidak akan selamanya di dunia fanaNya, kembali ke kampung abadi ke sisi Sang illahi, Allah SWT Yang Maha Memiliki.

Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat” 

(HR. Ibnu Maajah no.1569)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka ziarahilah (sekarang)! Karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.”
                                    (HR Muslim dari Abu Buraidah)



Catatan kaki :
(1) Syaksiyyah Islam = Kepribadian seorang muslim yang terlihat dari pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyah) nya sesuai dengan ajaran Islam yang kaaffah.
(2) Nafsiyah Islam = pola sikap seorang muslim yang tercermin dari keseharian nya yang mempunyai akhlak yang baik di masyarakat.
(3) Uslub = jalan ; bisa juga cara yang di tempuh 
(4) 
Insan Kamil = manusia yang sempurna 

Bahan Bacaan :
1. Wikipedia
2. krjogja.com. Inilah Pidato lengkap Sultan pada Pembukaan KUII-VI.

3. kompas.com. Senandung Sinom dan Kinanti Sunan Muria.
4. muriastudies.umk.ac.id
 






Baca Selanjutnya ...

Kamis, 19 Februari 2015

Wisata Bogor : Pilihan Tepat Wisata Keluarga Yang Lengkap

Kota Bogor adalah bagian dari keindahan bumi Parahiyangan. Inilah kota yang terbangun selama lima abad lebih diatas bentang alam sebagian dari tanah Jawa Barat yang indah penuh pesona dan subur. (Wajah Kota Bogor, kotabogor.go.id)
Istana Bogor ( Foto di ambil di sini)
Bogor bukan kota hujan....
Alhamdulillah, 16 tahun yang lalu setelah lulus sekolah putih abu-abu saya menginjak kan kaki ke kota yang menyambut kedatangan saya tidak dengan hujan. 
Bogor adalah kota yang sangat berkesan bagi saya. Hampir enam tahun saya tinggal di Bogor dan menikmati segala macam rasa kehidupan di kota ini sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah ( sebutan bagi kami yang berasal bukan dari jabodetabek). Bingung, iya betul karena saya harus mengikuti cara belajar di kampus hijau, salah satu PTN terkemuka di Indonesia dengan belajar ngos-ngos an (baca. serius dan sungguh-sungguh) agar lulus tepat waktu. Alhamdulillah, di kesibukan belajar saya di Bogor (kampus, laboratorium dan rental). Saya masih di ijinkanNya untuk belajar Islam kaaffah, sebagai pedoman hidup menjalani nikmat hidupNya yang sebentar di alam fanaNya ini.

Alhamdulillah, setelah menikah dan mengikuti kemanapun suami saya nguli. Akhirnya kami sekeluarga menjadi bagian kaum urban yang ikut bersama urbaners  mencari sesuap nasi  di megapolitan ibu kota Jakarta. Sesuai dengan budget dana yang ada, kami sekeluarga tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggir selatan Jakarta yang masih dekat  dengan Bogor.


Rusa-rusa di Istana Bogor (Foto di ambil di sini)

Kelas Bogor unit kegiatan bloggor (komunitas blogger Bogor) lagi ngadain lomba blog wisata Bogor?
Alhamdulillah pas banget, dari dulu saya ingin menulis tentang Bogor, tempat kedua saya menikmati hidupNya setelah daerah kelahiran saya. 

Selama di Bogor, sudah pernah pergi (tempat wisata) kemana saja?
Enam tahun di Bogor, saya tinggal di daerah Darmaga. Beberapa kali lembaga kajian Islam Kaaffah yang saya ikuti mengadakan rihlah (tafakkur alam) ke daerah-daerah yang banyak villa nya di Bogor. Seperti di Puncak dan kaki gunung Salak.

Dekat kampus saya, ada Situ (danau) Gede salah satu wisata alam ikon Bogor yang juga menjadi salah satu tempat praktek dan penelitian di kampus. Jadi beberapa kali saya dan teman-teman pergi ke Situ Gede.

Kebun Raya bogor dan Istana Bogor, ikon paling populer di Bogor. Pasti, menjadi tempat praktek kampus hijau. Begitupun, jurusan saya berkali-kali mengunjungi kebun Raya Bogor untuk penelitian sesuai mata kuliah yang sedang kami pelajari. Dan open house Istana Bogor setiap ulang tahun kota Bogor, adalah moment yang tidak pernah kami sia-sia kan untuk ikut juga melihat-lihat Istana yang bangunan nya peninggalan gubernur Belanda 
Herman Willem Daendels dan gubernur Inggris, Sir Stamford Raffles.


Hanya itu saja, masih ada (tempat wisata) yang lain ga?
Hehehe, pasti nya masih banyak tempat wisata di Bogor. Sebagai daerah yang jarak nya kurang lebih 57 km dari Jakarta. Pembangunan sarana dan infrastruktur umum Bogor sangat pesat. Hal ini membuat investor, terutama developer tidak hanya membangun pemukiman untuk perumahan tetapi juga tempat wisata baru sebagai tujuan refreshing warga Jakarta yang mencari hiburan tidak terlalu jauh (yang dekat saja).
Tempat dan tujuan wisata Bogor bisa di lihat di web resmi Pemerintah Kota Bogor.

Masjid Al Hurriyah, IPB Darmaga (Foto koleksi pribadi)
Suasana adem masjid Al Hurriyah membuat nyaman anak-anak
(Foto koleksi pribadi)

Semua jenis wisata lengkap ada di Bogor. Mulai wisata religi, kuliner yang sekarang sedang trend, wisata belanja, wisata alam, wisata sejarah, sampai wisata pendidikan/edukasi.

Kuntum farmfield, Tajur Bogor
(Foto koleksi pribadi)
Suasana yang menyenangkan anak-anak di Kuntum Farmfield, Tajur Bogor
(Foto koleksi pribadi)

Transportasi ke Bogor, bagaimana?
Bogor kota seribu angkot. Itulah faktanya, bagaikan dua mata sisi uang logam. Angkot adalah salah satu faktor penyebab macet nya Bogor selain juga sangat bermanfaat sekali bagi saya pergi kemana-mana 24 jam di Bogor. Dari Stasiun kota Bogor maupun terminal bus Baranangsiang, angkot sudah siap menunggu kita sesuai dengan tujuan yang akan kita tuju. Angkot di Bogor 24 jam beroperasi, saya pernah merasakan nya selama enam tahun tinggal di Bogor. Alhamdulillah, sebagai seorang perempuan saya merasakan keramahan sopir angkot di Bogor. Semoga demikian hingga saat ini, aamiin.

Dengan kendaraan pribadi, banyak nya kendaraan dari Jakarta yang masuk ke Bogor dengan tujuan wisata di akhir pekan, sudah di pastikan akan membuat perjalanan kita lebih lama di jalanan dari pada di tempat yang kita tuju, hehehe.


Kalau mau ke Bogor agak lama menginap di mana?
Banyak pilihan tempat kalau kami mau menginap di Bogor. Teman-teman saya sewaktu kuliah, sebagian banyak yang menetap di Bogor. Yach, kalau menginap sehari dua hari mungkin tidak apa-apa. tapi, karena saat ini kami sudah memiliki banyak pasukan (baca. anak-anak) yang jumlahnya baru empat, tentu kami tidak nyaman di hati kalau menginap ke rumah mereka, hehehe.

Komunitas blogger Bogor kerjasama dengan Padjadjaran Suites Resort & Convention Hotel dalam lomba blog wisata Bogor ini. Mau mencoba menginap di sana kalau pergi ke Bogor agak lama? Boleh, seperti nya menarik tempat dan lokasi nya.

Betuuuulll....
Padjadjaran Suites Resort dan Convention Hotel terletak sangat strategis di kota Bogor yang sejuk. Resor ini menawarkan sebuah kolam renang luar ruangan, akses WiFi gratis dan dengan pemandangan panorama indah Gunung Salak. Dengan posisi yang strategis,  sekitar 30 menit ke Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Dan juga jarak yang tidak jauh ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta hanya sekitar 2,5 jam dengan mobil.

Suasana resort dan hotel yang nyaman
(Foto di ambil di sini)

Padjadjaran Suites Resort & Convention Hotel Bogor menawarkan suasana yang nyaman dan menyenangkan baik untuk wisatawan bisnis maupun rekreasi di Bogor. Dengan kombinasi desain dan konvensi resort yang mempunyai fasilitas yang lengkap, Padjadjaran Suites Resort & Convention Hotel Bogor adalah tempat yang sempurna untuk acara dan akomodasi kebutuhan para wisatawan di Bogor.

Untuk melihat room rate dan gallery silahkan berkunjung ke web resmi  Padjadjaran Suites Resort & Convention Hotel.

Denah Padjadjaran Suites Resort & Convention Hotel Bogor
(Foto diambil di sini)


Tertarik untuk menginap bersama keluarga?
Pasti nya, apalagi dapat diskon atau free, hehehe.

Sebagai warga asli yang pernah tinggal di Bogor, berkunjung bahkan bisa kembali menjadi warga Bogor adalah sebuah impian. Jika ada survey daerah yang menjadi impian hidup di hari tua, saya akan memilih Bogor, sebagai salah satu pilihan. 


Baca Selanjutnya ...

Kamis, 12 Februari 2015

[Wisata Alam Jawa Tengah] Gunung Muria Kudus : Puncak Songolikur (29) Yang Menakjubkan Untuk Di ukur

"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk" 
[QS An Nahl : 15]

Bismillah....

Awal tahun 2015, seperti biasa saya dan keluarga silaturahim ke rumah mbah nya anak-anak di Kudus. Selain bertepatan dengan liburan sekolah, anak-anak sudah kangen bermain nge-bolang di rumah mbah nya setelah penat melihat kemacetan ketika berangkat dan pulang sekolah di jalanan megapolitan Jakarta. (Sebenar nya saya 'mbok-e' yang sudah pusing lihat macet, hehehe)

Kudus, sudah di kenal di Indonesia sebagai salah satu tujuan wisata religi di nusantara. Hal itu di sebabkan ada dua makam dari sembilan wali songo yang masyur dan kharismatik dengan syiar Islam nya di tanah Jawa. Banyak mobil dan bus dari berbagai kota, propinsi, bahkan pulau yang melewati depan rumah mbah nya anak-anak. Karena, rumah mbah di Kudus memang berada di lereng gunung Muria yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari wisata ziarah sunan Muria.

" Yuuuk ke Rahtawu?, ajak suami saya 
" Yang pemandangan nya baguuus itu kan....mauu sekalian ke puncak nya yoo pak-mu?", jawab saya dengan antusias, karena memang belum pernah ke sana dan bukan asli (dari) Kudus.

Alhamdulillah, karena di rumah ada budhe dan sepupu anak-anak. Kami bisa dengan nyaman menitipkan mereka, yach sambil menikmati masa-masa berdua  karena memang kami menikah tanpa pacaran. ( Jomblo mulia sampai ijabsah, yeeees....^_^ )

Sejak kembali dari tugas belajar ke negeri orange dan berkesempatan jalan-jalan ke beberapa kota di Eropa, suami saya sangat antusias dengan kekayaan dan keindahan negeri ini, yach Indonesia negeri yang kaya alam dan keindahan nya.
" Weees lah mbok-mu....ga ono sing apik koyo iku (sambil menunjuk ke televisi dengan program travelling Indonesia nya) neng kono (Eropa, red)," kata suami.
" Haaalaaah....padu ne ga pengen ngajak aku jalan-jalan neng Eropa to pak-mu," jawab saya agak kesal.
" Ndelok bangunan tua neng kono (Eropa)...alam e sik apik puoool Indonesia", jawab suami saya dengan bangga.
Salah satu perjalanan suami saya ke salah satu kota di Eropa saya tulis di sini.

Kembali ke rencana kami jalan-jalan ke desa Rahtawu.
Dari rumah kami berdua naik motor, karena pengalaman kami yang pernah bersama anak-anak membawa mobil, ngeri dan deg-deg an ketika di jalanan  bertemu mobil karena jalan yang sempit dan di bawah nya adalah jurang. 

Kalau teman-teman mau pergi ke desa Rahtawu dan melanjutkan trekking ke puncak 29, transportasi nya sangat mudah di jangkau. 
Dari terminal bus Kudus, silahkan cari angkot ke daerah Sukun (turun di pabrik Sukun) atau Colo (nanti turun di pasar Dawe). Setelah itu bisa melanjutkan dengan naik ojeg ke desa Rahtawu.
Dengan kendaraan pribadi, mobil atau motor setting GPS atau  Ga Pake Sungkan nanya ke warga Kudus yang ramah yang kita temui di jalan, di mana desa Rahtawu in Sya Allah akan sampai juga ke tempat yang kita tuju, hehehe.

Perjalanan ke Puncak 29 #1
Memasuki desa Rahtawu kita sudah di sambut dengan pemandangan alam ciptaan Allah Yang Maha Indah. Jalanan yang sudah mulai di bangun oleh dinas pariwisata setempat, karena memang desa Rahtawu adalah rintisan desa wisata pemda Kudus.

Gapura masuk desa Rahtawu


Sungai dengan batu-batu besar khas pemandangan daerah pegunungan
Sebelum memasuki jalanan setapak menuju puncak 29, alangkah menyenangkan jika kita mampir dulu di warung yang sekaligus tempat membayar retribusi (IDR 2000 saja). Begitu pun dengan saya dan suami, minum kopi sambil makan beberapa gorengan tak lupa kami menanyakan sekilas tentang jalanan yang akan kami tempuh nanti.

Warung tempat kita membayar retribusi ke puncak 29

" Taksih dangu lho bu...menawi mlampah mungkin taksih sekawan gangsal jam", jawab penjaga warung. Roaming ya dengan bahasa nya, hehehe.
Ini terjemahan nya : "Masih lama lho bu...mungkin kalau jalan masih 4-5 jam"
" Haaah....", kaget saya
" Yakin pak-mu....mau naik iki", tanya saya ke suami.
" Wees lah...ga po po, gowo motor luwih cepet mbok-mu", jawab suami saya dengan optimis nya.
Yaaa sudahlah, ikuuut saja. Jalanan setapak yang kami lalui setelah dari warung masih landai sekitar 500 meter sudah mulai menanjak ke atas. Suara motor matic yang menderu-deru melewati jalan tanjakan membuat panas mesin nya, mulai lah tercium bau gosong tanda mesin nya sudah sangat panas.

Warga desa Rahtawu yang berkebun di gunung
Di persimpangan jalan setapak, yang lurus ke puncak 29 dan yang belok ke sendang Bunton. Kami bertemu dengan ibu-ibu petani yang mau turun. 
Saya pun menyapa dan menanyakan masih jauh kah jalan ke puncak 29.
" Nyuwun sewu lek...taklet, taksih tebih badhe teng puncak?"
" Njenengan badhe teng puncak.....taksih tebih lho, kok boten enjing wau....sakniki kan mpun sonten buk", Jawab lek 'ibu petani' tadi.
Ini terjemahan nya :
" Maaf lek...tanya, apakah masih jauh ke puncak?"
" Kamu mau ke puncak...masih jauh lho, kok tidak pagi tadi...sekarang kan sudah sore".
"Waduuuh...iki piye, lanjut ga pak-mu....wees sore?", tanya saya ke suami.
" Munggah sithik yuuuk....nti lagi mudun", ajak suami saya.
Jalanan setapak masih landai dan ada beberapa tanjakan yang membuat motor matic kami semakin panas. Akhirnya, kami pun pulang dan tidak menyerah, hehehe. 
In Sya Allah, besok kami akan kembali ke jalanan ini dengan motor bukan matic yang bisa di pakai untuk jalanan yang menanjak (tinggi). Bismillah....

Perjalanan ke Puncak 29 #2
Untuk memenuhi rasa penasaran kami, persiapan untuk naik ke puncak 29 lebih matang lagi. Kali ini sebelum pergi ke desa Rahtawu, suami saya mencoba motor bebek di rumah mbah nya anak-anak yang mampu untuk naik ke tanjakan di sekitar rumah yang memang kontur tanah nya berbukit-bukit.
Bismillah...
Kami kembali mengukur jalan naik ke puncak 29 untuk kedua kali nya.
Sekarang kami sudah mulai hafal jalan sampai ke pertigaan sendang Bunton, setelah mencapai jalan setapak itu rasa penasaran kami pun semakin tinggi, yach karena kami berpapasan dengan anak kecil yang di ajak ibu nya ke kebun di gunung. Jarak yang di tempuh menuju kebun itu sudah jauh sekali dari warung tempat retribusi masuk ke puncak 29. Walaupun ada ojeg motor ke gunung, anak kecil dan ibu nya itu berjalan kaki, Masya Allah Wallahu Akbar.

Jalan setapak pertigaan pertama, lurus ke puncak 29
Berkali-kali saya hanya bisa berdzikir, karena jalan setapak menuju puncak 29 yang semakin naik dan itu arti nya saya tidak bisa naik motor di bonceng suami, justru ikut mendorong motor naik ke tanjakan yang semakin curam. Huftttt, lihat anak kecil tadi saya malu kalau mengeluh dan bilang capek, hehehe.
Sampai lah kita ke jalanan yang lebih banyak pohon kopi nya, kabut mulai turun, dan itu membuat saya agak ciut nyali karena melihat ke atas (gunung) tampak gelap dan berkabut.
Di tikungan jalan, kami kaget karena masih bertemu dengan bapak petani sepuh (tua) yang mau pulang dari kebun sambil memikul kayu besar untuk di bawa turun (pulang).
Melihat saya yang kecapekan, mbah tadi yang menyapa kami duluan.
" Badhe teng puncak nggih?", tanya mbah sepuh itu.
" Nggih mbah....taksih tebih nopo sampun cerak nggih...", tanya saya penasaran dengan jalanan setapak yang kapan bertemu puncak nya ini.
" Hehehe....pripun nggih, di pun arani cerak nggih cerak....di pun arani tebih nggih taksih tebih", jawab mbah sepuh tadi.
" Lhooo...pripun niku mbah?", tanya saya
" Badhe minggah teng puncak niku boten sah di pikir ke...mlampah mawon boten sah mikir tebih mangke nggih tebih boten dugi-dugi....sakniki menawi minggah mikir ipun mpun cerak ngonten lah....", jawab mbah sepuh sambil nunjuk ke atas.
(Roaming, hehehe....maaf obrolan bahasa jawa saya tadi tidak perlu di terjemahkan ya, in Sya Allah mudah untuk di mengerti oleh teman-teman yang membaca)

Jalanan setapak menuju puncak 29 dengan tanaman kopi di kanan kiri jalan 
Pemandangan desa Rahtawu dari kebun kopi warga di gunung
Setelah pamit dengan mbah tadi, kami naik lagi ke atas, jalanan semakin sepi. Di kejauhan masih terdengar obrolan para petani yang sedang membersihkan kebun kopi nya.
Dan saya pun menyerah, minta pulang saja karena hari sudah sore dan tidak mungkin kalau kami tetap nekat naik ke puncak 29.

Perjalanan ke Puncak 29 #3
Sekarang kami tidak boleh gagal, ibarat memasuk kan password ke mesin ATM untuk ketiga kali setelah dua kali gagal, sekarang harus berhasil, hehehe.
Bismillah....
Kami berangkat dari rumah lebih pagi, setelah anak-anak sudah mandi dan sarapan. Mereka bermain bersama dengan sepupu-sepupu nya. Kami pun berangkat ke desa Rahtawu.
Dari jalanan setapak kebun kopi yang di perjalanan kedua kemarin kami berhenti, sekarang kami menemukan jalanan setapak yang lebih menanjak. Dan yang membuat kami takjub, masih terdengar suara derum motor yang menandakan jalanan ini sudah biasa di lalui petani ke kebun nya yang sekaligus juga memberikan jasa ojeg bagi pengunjung yang mau ke puncak 29.
Jalanan setapak semakin menanjak, kami pun semakin kesulitan melalui nya dan saya yang lebih banyak melalui nya dengan jalan kaki, tak terhitung berapa kali duduk di jalanan untuk sejenak mengambil nafas agak lama, hehehe.


Saat ini saya memang lelah berjalan, hehehe.

Dan kami pun masih di buat takjub, di ketinggian yang menurut kami sudah jauh sekali dari start perjalanan menuju puncak 29 ini, masih bertemu dengan ibu petani sepuh yang membawa kayu bakar untuk di kumpulkan dan di bawa pulang. Masya Allah Wallahu Akbar, hanya kalimat-kalimat thoyibah yang bisa saya ucapkan melihat usaha mbah tadi untuk hidup di ketinggian hampir 1300 dpl . Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan
masihkah sebagai hambaNya kita mendustakan nikmatNya yang telah di berikan saat ini......Hiks, mulai dech mbrebes mili.

Kali ini pun mulut saya tak tahan untuk menyapa beliau.
" Mbah, niku leres dalan badhe teng puncak....", tanya saya sambil menunjuk jalan yang lurus karena memang ada percabangan jalan di depan saya.
" Ouw badhe teng puncak nggih, leres menawi lurus mangke wonten dalan cor-cor an ingkang sampun di pun dandosi kalih ojeg-ojeg niku. Lha menawi meniko (nunjuk ke cabang satu nya) dalan ipun medeni nanjak sanget", jawab mbah sepuh tadi.
" Nggih....nggih maturnuwun mbah", saya pamit ke mbah untuk melanjutkan perjalanan.

Memang betul kata mbah tadi, kurang lebih 300 meter kami menemukan jalan setapak yang sudah di cor semen. Waduuh , piye bawa semen nya ke puncak ini ya, Allahu Akbar memang usaha manusia yang luar biasa sungguh-sungguh mau membuat jalanan setapak ini sehingga agak nyaman untuk di lalui oleh pengunjung.

Hati kami sedikit senang, masih terngiang pesan mbah sepuh yang bertemu kami di perjalanan yang kedua. Tidak boleh membatin masih jauh, harus huznudzon puncak itu hampir sampai agar perjalanan kita tidak capek dan menyenangkan, itu hikmah yang saya peroleh dari pesan mbah itu.

Dan motor pun kami parkir di jalanan yang di cor paling ujung, karena ada kayu yang sengaja di pasang agar jalanan yang baru di cor itu tidak di lalui oleh motor. Ya sudah, mulai lah kami hikking, mengukur masih seberapa jauh lagi puncak 29 itu kami capai.

Bismillah....

Pemandangan puncak 29 yang tertutupi kabut

"Jalanan melingkar iku....nanti kita lalui mbok-mu...", tunjuk suami saya ke atas gunung.
" Haaah.....", itu saja yang bisa saya jawab walaupun sudah capek sekali dantidak mengucapkan nya ingat pesan mbah itu.

Alhamdulillah...
Di jalanan yang kami lewati ada mata air yang mengalir dan sayup-sayup terdengar suara orang mengobrol. Berarti di sekitar daerah itu (padahal sudah agak ke puncak) masih ada warga yang menanami nya untuk berkebun.
Kesempatan itu tidak kami sia-sia kan untuk wudlu karena sudah tengah hari dan waktu nya sholat dhuhur.

Kami mencari tempat yang datar agar kami bisa sholat menghadapNya di hamparan gunung Muria salah satu ciptaanNya yang Maha Tinggi.

Setelah selesai sholat, kami pun melanjutkan perjalanan. Sudah tanggung, kepalang membalik punggung, untuk kembali ke kampung, hehehe. Karena selesai sholat, hujan deras pun mengguyur kami, walhasil jalanan yang semakin naik menjadi licin, dan saya pun memilih memakai kaki saja alias melepas kaos kaki dan sandal yang dari awal perjalanan menemani.

Dalam perjalanan kami bertemu seorang laki-laki setengah abad dengan pakaian rapi hendak turun. Kami pun saling menyapa dan menanyakan kira-kira berapa meter lagi perjalanan kami ke puncak. Masih pamali, takut kalau menanyakan masih jauh atau dekat, hehehe.
Sekitar 500 meter lagi kata bapak tadi. Dan ternyata, itu masih jauh untuk perjalanan yang selalu naik tajam ke atas teman-teman.

Alhamdulillah, sudah sampai hibur hati saya ketika melihat ada bangunan-bangunan rumah di depan yang ternyata tidak ada seorang pun kami temui penghuni nya. Syerem, hmmm agak memang dengan suasana hujan gerimis aura negatif tempat itu kuat saya rasakan. Sekali lagi, saya lanjutkan berdzikir karena memang tujuan saya ke puncak adalah untuk menambah rasa syukur atas banyak nikmatNya, salah satu nya adalah gunung-gunung yang di ciptakanNya sebagai pasak bumi yang kita pijak ini.

Di bangunan paling ujung, alhamdulillah ada bapak yang menunggu bangunan tidak permanen yang di jadikan sebuah warung itu. Seperti nya bapak itu baru bangun tidur. Kami pun mengajak bapak nya mengobrol, dan ternyata kami salah teman-teman, tempat ini bukan lah puncak 29, tapi petilasan begawan Abiyasa yang sering di kunjungi orang-orang di bulan tertentu untuk tujuan yang tertentu juga. Hmmmm....

Menurut informasi bapak di warung tadi, masih 500 meter lagi naik ke atas puncak 29.
Saya dan suami pun masih semangat untuk melanjutkan perjalanan, yuuuk Bismillah.
Perjalanan dari petilasan begawan Abiyasa ke puncak 29, adalah perjalanan terberat menurut saya. Jalanan sudah naik hampir 150 derajat dengan mendaki batu-batu dan pemandangan kanan kiri adalah jurang, WoooW. Masya Allah Wallahu Akbar.
Bagi saya yang takut ketinggian, perjalanan yang tinggal ratusan meter ini adalah perjalanan yang membuat jantung saya berdetak lebih kencang dan mata tidak boleh melihat samping kanan dan kiri, karena itu akan menambah detak jantung saya semakin kencang. Yach, kanan kiri batu terjal ini adalah jurang.

Pandangan mata saya fokus ke depan  hanya ada batu-batu, dan saya berharap setelah batu itu adalah puncak 29 itu. Ternyata berkali-kali saya salah, hiks.

Dan tibalah  pemandangan di atas saya adalah tanah yang perlu untuk di daki bukan batu-batu lagi, dalam keadaan hujan gerimis, sangat sulit mendaki tanah yang licin itu. Alhamdulillah, ada lubang-lubang yang sengaja di buat untuk membantu para pendaki  dan pepohonan untuk pegangan.

Allahu Akbar....
Seperti nya di atas saya yang kelihatan gapura itulah puncak 29.
Alhamdulillah ala kulli hal....Akhirnya, terbayar sudah perjalanan saya dan suami selama berjam-jam menuju tempat ini.


Gapura puncak 29
Di puncak 29 ada beberapa bangunan, salah satu nya adalah warung nya pakdhe (saya menyebut demikian karena lupa menanyakan nama nya, nyuwun sewu nggih). Di sebelah warung adalah rumah atau pondok yang kata pakdhe tempat menginap para pendaki yang ingin melihat sunrise.
Tak lupa di warung pakdhe, saya memenuhi hajat badan yang minta di isi karena lewat tengah hari. Kami sampai di puncak 29 jam 13.30 WIB.

Warung pakdhe di puncak 29
Di warung pakdhe, kami pesan mie rebus dan telur dengan segelas jahe hangat serta kopi tubruk.
Self service, saya meminta ijin ke pakdhe untuk membuat semua nya sendiri di pawon nya.

Pakdhe ngobrol dengan suami saya, dan Alhamdulillah satu mangkok mie dan telur serta segelas besar minuman hangat menemani kami menikmati puncak 29 yang sedang gerimis hujan serta berkabut.

Kaget, pasti nya saya. Tak terbayang kan bagaimana usaha membawa bahan makanan dan minuman dari bawah (perkampungan) ke puncak 29 yang jarak nya berkilo-kilo meter dengan waktu tempuh berjam-jam dan ternyata harga makanan nya tidak mahal seperti kalau kita kena harga getok di tempat-tempat wisata atau transportasi umum. 

Bikin penasaran yaaa, hehehe.
Inilah harga makanan di warung pakdhe. Satu porsi mie rebus dan telur IDR 8000, satu gelas besar minuman hangat IDR 4000 dan satu tahu goreng IDR 1000. kebetulan ketika kami mau pamit turun ke bawah, hujan tambah deras di warung pakdhe menjual juga jas hujan sekali pakai yang harga nya masih wajar IDR 10.000 saja. Alhamdulillah.

Hikmah dari perjalanan wisata alam ke puncak 29 ini bagi saya adalah semakin menambah rasa syukur atas banyak nya nikmatNya yang sudah saya rasakan dan di berikanNya selama saya di beri nikmat nafasNya.

Dan semoga teman-teman pun juga bisa merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan dan kita termasuk hambaNya yang pandai bersyukur dan sholeh/sholehah. Aamiin




“Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".

[QS. An-Naml : 19]
















Baca Selanjutnya ...

Selasa, 25 November 2014

Pengumuman Pemenang Give Away Perjalananku dan Masjid

Alhamdulillah....
Jazakumulloh khairon katsiron, terima kasih buat teman-teman blogger yang ikut berpartisipasi meramaikan giveaway saya dan mbak Irawati Prilia kali ini.



Semoga tulisan tentang masjid yang ada di daerah teman-teman blogger menjadi info yang bermanfaat buat para musafir dan menjadi amal pahala teman-teman blogger  kelak di yaumul hisabNya, aamiin

1. Zaitun Hakimiah NS ~ Keistimewaan Masjid Agung Darul Muttaqien

2. Fiu S ~ Masjid Al Azhar Bekasi

3. Fenny Ferawati ~ link tulisan tidak terdaftar

4. Rodame MN ~  Perjalanan dan Mesjid di Kota Bogor

5. YSalma ~ Berkunjung ke Masjid Agung At-Tin

6. Tita Kurniawan ~ Masjid Agung Kudus


7. Siti Nurjanah ~ Simbol Kemegahan dari Lembah Hitam Menuju Cahaya

8. Rifki ~  Masjid Jami’ Al-Anwar : Tempatku Bermain dan Belajar

9. Nurul Rahmawati ~ Masjid Al-Akbar, Besar dan Bahagia Menguar

10. Widhi Vinandhita ~ Masjid Al-Akbar Surabaya

11. Argalitha ~ Masjid Jami' AlAnwar Kota Pasuruan

12. Yulita Widya N. ~ Aroma Khas Pegunungan Masjid Agung Ruhama' Takengon

13. Ina Rakhmawati ~ (Anggap Saja) Masjid Timur Tengah

14. Yuniari Mukti ~ Masjid Cheng Hoo, monumen sejarah bahariawan muslim

15. Rina Susanti ~ Mesjid di Ketinggian 2000 Meter

16. Dwi Puspita Nurmalinda ~ Ke Masjid Asy Syuhada dulu, baru incip Sate Lalatnya

17. Muhammad Angki Prasetyo Nugroho ~ Masjid Syuhada Kotabaru hijrah Jadi Lebih Baik

18. Leyla Imtichanah ~ Masjid Agung Garut, Tak Hanya Mampir Salat tapi Juga Berwisata

19. Armita Fibriyanti ~ Masjid Agung An Nur, “Taj Mahal”-nya Provinsi Riau

20. Susanti Dewi ~ Masjid Agung Ats-Tsauroh Serang : Masjid Yang Nyaman Untuk Musafir

21. Dee An ~ Masjid Jabal Arafah, Ikon Baru Wisata Religi di Batam

22. Katerina ~ Horor Di Masjid Seribu Pintu Tangerang


Daaaan....
Inilah hasil dari penilaian mbak Irawati Prilia



Bismillahirrohmanirrohiim,

Alhamdulillah, Give Away Perjalananku dan Masjid sudah terlaksana. Sebelumnya, terima kasih kami ucapkan kepada semua peserta. Yang telah meluangkan waktu menuliskan pengalamannya bersama masjid. Mencerminkan keterikatan batinnya dengan Rumah Allah.

Saya simak, ada tiga tema besar yang diceritakan peserta GA. Pertama mereka yang menceritakan tentang masjid di kampung halaman. Yang biasa disambangi dan tidak asing suasananya. Serta mereka yang mengunjungi masjid dalam perjalanan panjang. Serta mereka yang sengaja mendatangi suatu masjid untuk berwisata religi.

Di lain pihak, saya juga mengamati bahwa fungsi masjid sekarang tak sekadar jadi tempat sembahyang dan mengkaji ilmu. Namun juga sebagai destinasi wisata religi dan kuliner.
Banyak sekali cerita-cerita unik, mengesankan, bahkan mengharukan dari peserta GA. Mengingatkan akan cerita saya sendiri dulu di kampung halaman. Rumah orang tua saya dekat musala. Tempat kami mengaji dan salat jamaah.

Kalau mau salat Jumat, kami beramai-ramai ke masjid besar, sekira 500 m dari rumah. Di bulan ramadan, saya janjian bersama teman-teman iktikaf di sepuluh malam terakhir. Di masjid juga sering diadakan lomba-lomba keagamaan bagi anak-anak. Lomba salat, mengaji, azan, dan cerdas cermat. Kemarin saat pulang kampung saya temukan bangunan masjid sudah sangat megah. Semoga yang sembahyang jamaah di sana juga makin banyak.

Oh ya, dari 23 peserta GA, ada seorang yang tidak bisa saya temukan artikelnya. Dua orang sayangnya lupa mencantumkan tautan yang menjadi syarat lomba. Padahal isi artikel mereka bagus.
Saya merasa kesulitan menentukan pemenang lomba GA ini. Banyak sekali tulisan bagus dan saya suka. Saya ucapkan selamat kepada pemenang yang namanya tercantum di bawah ini. Buat semua peserta, semoga kita semua bisa selalu memakmurkan masjid di mana pun kita berada. In shaa Allah.


Pemenang 1 (Tas rajutan +pulsa 50 rb + buku The True Hijab)
RIFKI

Pemenang 2 (Dompet rajutan + pulsa 50 rb + buku The true Hijab)
KATERINA

Pemenang 3 (3 buku The Draculesty the series + pulsa 50 rb + Buku The True Hijab)
Muhammad Angky Prasetyo Nugroho

Pemenang 4 (pulsa 25 rb + buku The True Hijab)
NAPITUPULU RODAME
TITA KURNIAWAN
ARGALITHA
TITIK ASA

Pemenang 4 (lagi)
FIU S.
YULITA WIDYA N
YUNIARI NUKTI

Buat teman-teman blogger sekali lagi terima kasih atas partisipasi nya di giveaway 'Perjalanananku dan Masjid'.
Buat para pemenang, Barakumulloh selamat yaaa....
Akan saya usahakan segera menghubungi teman-teman untuk melengkapi alamat pengiriman hadiah giveaway ini.




Baca Selanjutnya ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...