Jumat, 26 Juni 2015

[ Cinta (Wisata) Jawa Tengah ] : Anugerah TerindahNya, Yang Harus Kita Jaga




" Sewu kuto uwis tak liwati, sewu ati tak lakoni. Nanging kabeh podo rangerteni. Lungamu neng endi....Pirang tahun aku nggoleki, seprene durung biso nemoni......" 
[ Sewu Kuto ; Didi Kempot ]

Paaaas, lagu campursasi lek Didi itu menemani safar dan menambah galau hati dalam perjalanan melintasi hampir sembilan kabupaten dan kota di provinsi Jawa Tengah. Tahun 2000-an awal, tak afdhol rasa nya bus antar kota antar provinsi tidak menyetel CD lagu-lagu campursari yang sedang hits. Hampir enam tahun, perjalanan pulang pergi naik bus rutin saya lakukan dari daerah kelahiran saya, Madiun menuju ke kota bukan hujan, Bogor tempat saya menimba ilmu setelah lulus putih abu-abu. Dari perjalanan saya itu, hanya provinsi Jawa Tengah yang sudah saya lihat (dari pinggir kaca bus ^_^ ) mulai ujung timur nya sampai ujung barat nya. Walaupun saya hanya melihat dari dalam kendaraan, dalam hati saya punya keinginan suatu saat bisa jalan-jalan dan keliling ke salah kota nya. Bismillah....





Rasulullah SAW bersabda :" Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku ". 
[ HR. Ibnu Majah, riwayat dari Ummul Mukminin Aisyah r.a.]

Setelah menikah, perjalanan saya yang tidak sekedar melintasi provinsi jawa Tengah pun di mulai. Alhamdulillah, sesuatu yang dulu saya hanya melihat ( di dalam bus) sekarang saya bisa menikmati kekayaan alamNya yang subur dan melimpah di provinsi Jawa Tengah ini.



Kudus, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah yang memiliki 29 kabupaten dan 6 kota . Kudus adalah rumah dari suami saya, bapak anak-anak amanahNya yang di titipkan kepada kami. Dari Kudus lah, pengalaman perjalanan dan singgah ke beberapa tempat di sekitar Kudus di mulai, dan perjalanan-perjalanan itu membuat saya mencintai (wisata) di provinsi Jawa Tengah.

Kebetulan saat ini, kami tidak tinggal di Kudus. Alhamdulillah orang tua kami masih lengkap, liburan lebaran adalah safar bagi kami mulai rumah di pinggir selatan Jakarta menuju rumah orang tua di Kudus dan Madiun.

Masjid di Karang Anyar, Demak. Tempat favorit kami untuk berhenti dan sholat .


Lebaran dan  travelling wisata
Pernahkan kita berfikir sejenak, selain mudik aka pulang kampung. Beberapa tahun mungkin hampir satu dekade lebih, lebaran tidak identik dengan silaturahim saja. Rumah - rumah sudah tidak ramai dengan saudara yang saling ber-silaturahim, mungkin hanya beberapa saja yang  masih keliling ke kerabat untuk silaturahim. Kemanakah mereka ? Ternyata, mereka dengan keluarga mengunjungi tempat- tempat wisata yang ada di daerah masing-masing. Lebaran hari ketiga, tempat-tempat wisata baik itu wisata modern (mall, waterboom, kuliner, taman buah, taman bunga) maupun wisata alam (pantai, laut, air terjun, danau) mulai padat di penuhi oleh pengunjung. Para pengunjung biasa nya tidak datang sendirian, tapi bersama dengan keluarga besar mereka.
Hal ini tentu menjadi peluang bagus bagi dinas pariwisata setempat untuk memberikan pelayanan yang baik agar nanti  para pengunjung sangat tertarik dan tak jemu-jemu untuk balik.


Begitu juga saya dan keluarga, beberapa perjalanan wisata di provinsi Jawa Tengah, kami lakukan saat libur lebaran. Dan saya perhatikan sudah banyak kemajuan yang di berikan oleh dinas pariwisata setempat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan yang baik bagi pengunjung.


Karanganyar

Daerah perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah ini adalah bagian perjalanan yang di tunggu oleh anak-anak. Pemandangan alam pegunungan lereng gunung lawu yang indah, hutan cemara yang masih di rawat (penghijauan nya), suhu udara hampir 20 derajat celsius membuat kabut turun dan perjalanan seperti di negeri awan.  Masya Allah, sungguh perjalanan yang menyenangkan dan pasti membuat penasaran teman-teman yang belum pernah ke daerah itu.  Kemudian silahkan berhenti sejenak melihat pemandangan gunung dan kebun-kebun strawberry sambil menikmati bakso dan kopi panas yang banyak di jajakan oleh penjual di sekitar daerah itu, in sya Allah bisa membantu fresh badan dan fikiran selama perjalanan. Harapan saya. semoga pemerintah setempat selalu memperhatikan penghijauan di daerah Cemoro Sewu, sehingga masih bisa di nikmati keindahan alam nya oleh anak cucu kita nanti, aamiin.



Melanjutkan perjalanan ke arah Surakarta, ada beberapa tempat wisata yang di tunggu anak-anak. Yach, wisata-wisata di Tawang Mangu. Selain grojogan sewu, di Tawang Mangu ada beberapa wisata baru yang di lengkapi dengan wahana permainan yang di sukai anak-anak.


Semarang

Semarang sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah, adalah pusat dari semua administrasi pemerintahan sekaligus pusat perkembangan infrastruktur di provinsi ini. Banyak nya gedung-gedung di bangun, salah satu nya adalah tempat menginap bagi wisatawan, baik hotel bintang lima maupun hotel budget backpacker membuktikan pusat provinsi Jawa Tengah sudah menjadi daerah tujuan penikmat wisata baik dari dalam negeri maupun mancanegara.



Di Semarang, saya dan keluarga belum banyak mengunjungi tempat-tempat wisata nya. Beberapa tempat yang sudah kami kunjungi adalah daerah bandungan dan Masjid Agung Jawa Tengah.


Jepara
Terletak di bagian utara Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan laut Jawa, membuat daerah Jepara mempunyai tempat wisata pantai yang banyak untuk di kunjungi.

Pantai Kartini, Jepara

Menikmati kebesaranNya, sunset di pantai Kartini, Jepara

Arena bermain anak-anak di pantai Kartini, Jepara

Pulau Panjang, Pantai Kartini, Jepara
Pantai Kartini, adalah tujuan wisata pantai yang populer di Jepara. Saya dan keluarga adalah salah satu pengunjung yang berkali-kali menikmati indahnya wisata pantai Kartini.



Selain pantai Kartini, ada juga pantai Bandengan. Di pantai Bandengan ini pengunjung akan menikmati air laut yang berpasir putih, berbeda dengan pantai kartini yang pantai nya tidak berpasir dan tidak bisa di pakai untuk bermain air laut nya.




Ada satu pantai lagi di Jepara yang pernah kami kunjungi dan sedang di kembangkan oleh dinas pariwisata setempat sebagai wisata kuliner, yaitu wisata pantai Pungkruk. Dengan harga kuliner yang terjangkau, bukan harga getok . Ditambah lagi sarana  dan prasarana  oleh dinas pariwisata, tidak mungkin jika pantai Pungkruk juga di minati banyak pengunjung untuk menikmati keindahan pantai nya.

Setelah dari pantai-pantai di Jepara, kembali ke rumah di Kudus mengelilingi gunung Muria adalah perjalanan yang tidak membuat mata untuk tidur. Yach, masjid-masjid yang indah bagi musafir di pinggir jalan membuat saya dan keluarga tak henti mengucap syukur. Beberapa hutan yang masih di jaga kehijauan nya membuat saya dan keluarga serasa berjalan bukan di pulau jawa (hehehe....). Semoga kehijauan hutan-hutan di sekitar gunung Muria di daerah Jepara tetap hijau ketika nanti kami kembali menyusuri jalan tersebut, aamiin.


Kudus
Alhamdulillah, di lereng gunung Muria Kudus inilah finish perjalanan saya dan keluarga. Sebagai daerah dengan luas wilayah yang lebih kecil di banding dengan daerah yang lain di karesidenan Pati. Kudus mempunyai perkembangan ekonomi yang stabil karena ada nya beberapa perusahaan nasional yang mempunyai aset (pabrik) di Kudus dan mampu menyerap banyak tenaga kerja.


Pemandangan gunung Muria adalah jendela rumah mbah nya anak-anak, yach karena memang rumah mbah ada di lereng nya. Udara dingin yang ekstrim dengan udara siang hari yang panas, membuat anak-anak harus cepat beradaptasi dengan cuaca pegunungan. Panas nya rumah mbah di siang hari tidak lepas dari campur tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Sebelum krisis moneter tahun 1998, suami saya masih bisa melihat kabut turun di depan rumah nya dan mengalami kedinginan yang menusuk kulit di malam hari jika tidur tidak berselimut tebal. Setelah krisis moneter, illegal logging yang tak terkendali membuat perubahan cuaca yang ekstrim sampai saat ini.

Alhamdulillah, masih ada usaha  warga Kudus yang peduli dengan lingkungan. Itu bisa dilihat ketika saya dan suami blusukan ke atas (naik ke daerah yang lebih tinggi) di gunung Muria. Semoga saja bukan hanya ikhtiar dari warga saja untuk menghijaukan kembali wilayah gunung Muria tetapi juga di dukung oleh pemerintah daerah dengan program penghijauan yang di ikuti oleh regulasi hukum bagi pelanggar yang melakukan illegal logging, aamiin.

Makam Sunan Muria, Colo, Kudus
Lereng gunung Muria adalah  tujuan wisata favorit masyarakat di provinsi Jawa Tengah bagian utara. Selain wisata religi ke makan sunan Muria, ada juga wisata-wisata yang telah di bangun dengan menawarkan sejuk nya udara dan pemandangan gunung Muria.


Taman Sardi, Kajar,  Kudus
Taman Sardi, tempat camping dan outbond  yang di lengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Pemandangan gunung dan kontur tanah yang berbukit-bukit membuat taman ini selalu ramai di pakai kegiatan sekolah maupun institusi pemerintah dan non pemerintah.



Kebon Iboe, Colo, Kudus
Kebun Iboe, wisata kuliner yang di lengkapi taman bermain dan kebun strawberry menjadi tempat tujuan wisata keluarga yang menarik untuk di kunjungi.



Waterboom Mulia, Lau, Kudus
Dan waterboom Mulia , tempat wisata yang jarak nya hanya selemparan batu (hehehe...) dari rumah mbah ini adalah wisata air yang tidak pernah sepi oleh pengunjung terutama di hari raya idul fitri (lebaran) dan liburan anak-anak sekolah.
Alhamdulillah, kami bisa mendapatkan momen yang tepat. Kebetulan awal bulan April kemarin anak-anak pulang silaturahim ke rumah mbah walaupun sebentar. Dan tidak perlu jauh mengajak mereka jalan-jalan, cukup jalan sebentar sudah sampai ke wisata air yang harga tiket masuk nya terjangkau sekali IDR 15 ribu. Karena bukan hari libur sekolah, setelah ba'da Ashar kami tiba dan kami lah pengunjung yang ada di waterboom, serasa menikmati private kolam renang. Masya Allah.


Saran untuk wisata di provinsi Jawa Tengah

" ....original Javanesse is in central Java "

Begitulah keistimewaan provinsi Jawa Tengah di banding dengan provinsi yang lain nya  di pulau Jawa. Karena  suku Jawa adalah  suku mayoritas yang ada di provinsi ini. Nilai-nilai positif tentang kehidupan yang menjadi spirit dan identitas suku Jawa adalah nilai jual yang bisa di kembangkan oleh dinas pariwisata provinsi Jawa Tengah menjadi produk wisata yang menarik wisatawan.


Suasana ramai pengunjung di Grojogan Sewu, Tawangmangu  saat Lebaran H+5


Kekayaan alam provinsi Jawa Tengah adalah anugerah dari Yang Maha Pencipta, tanah yang subur menjadikan komoditi sayur dan buah-buahan menjadi produk utama masyarakat yang ada di Jawa tengah. Beberapa daerah di provinsi Jawa Tengah, adalah penghasil buah-buahan lokal yang bisa di kembangkan oleh dinas pariwisata sebagai tempat wisata perkebunan atau wisata buah-buahan. Seperti dalam perjalanan kami yang sampai di daerah Alas Roban, kabupaten Batang yang terkenal dengan buah durian nya, ketika musim durian tiba, pasti tergoda mata untuk berhenti sejenak untuk mencicipi enak nya.

Durian-durian yang menggoda di jalanan setelah Alas Roban, Batang
Sebagai pusat nya pulau Jawa, provinsi Jawa Tengah memiliki wisata sejarah dan religi yang sampai saat ini menjadi tujuan wisatawan untuk selalu mengunjungi nya. Tentu hal ini menguntungkan bagi dinas pariwisata untuk lebih meningkatkan pelayanan dengan menambah kenyamanan pengunjung. Jika para wisatawan merasa puas dan nyaman pasti akan membuat mereka ingin kembali mengunjungi wisata-wisata di provinsi Jawa Tengah.


Harga makanan dan minuman yang di tulis, membuat pengunjung tak khawatir dengan
 harga getok


Mungkin, itu saja saran saya untuk kemajuan wisata di provinsi Jawa Tengah. Dari 29 kabupaten dan 6 kota, ternyata saya hanya sedikit saja ngubek-ubek tempat-tempat wisata nya, hehehe. Belum banyak yang bisa saya tuliskan tentang wisata yang ada di provinsi Jawa Tengah. Namun, dari sedikit daerah yang saya kunjungi itu, saya tak akan pernah tidak mau untuk kembali lagi, saya pasti mau untuk wisata ke tempat wisata yang pernah saya kunjungi itu. Yach, karena saya mencintai (wisata) nya.


Dari perjalanan wisata tersebut, saya semakin merasa bersyukur atas banyak nikmatNya. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali hanya pertolongan Allah, itulah dzikir yang tak pernah henti ketika melihat nikmatNya. Keindahan dan kekayaan alam adalah ciptaanNya yang bisa kita lihat dan nikmati.

Dan sudah seharusnya dengan anugerahNya, selain cinta (wisata) nya kita pun juga menjaga nya.








Baca Selanjutnya ...

Rabu, 10 Juni 2015

[Wisata Kuliner Jawa Tengah] Kudus : Berbagai Makanan Maknyuus Yang Tak Bisa Membuat Badan Kurus

" ..makanan enak di lidah, bukan karena panggilan perut (yang perlu di isi) secukupnya dan masuk terus (ke perut), maka jangan salahkan lemak yang nyaman nempel di badan..:D "
Itulah pengalaman bukan saya....
Hampir sepuluh tahun menjadi bagian dari masyarakat Kudus, kuliner Kudus telah berhasil menambah 15 kg lemak nempel di badan. Bukan nya tidak ada ikhtiar untuk mengurangi lemak-lemak itu, tetapi godaan mata dan bau (kuliner) berhasil menambah lagi lemak 1 - 2 kg di badan setelah diet berminggu-minggu yang sudah saya lakukan. #hiks...

Saat ini saya dan keluarga tidak tinggal di Kudus, namun kuliner Kudus masih menjadi favorit makanan di rumah karena lidah pak bos (suami) tidak pernah bisa merasakan maknyus nya masakan kalau itu tidak di masak dengan bumbu khas tempat lahir nya, Kudus.

Ketika mbalik ndeso ke Kudus dan hajat badan meminta untuk di penuhi. Memasuki kabupaten Kudus, setelah jembatan perbatasan Demak - Kudus arah lurus ke jalan Agil Kusumadya, di kanan kiri jalan banyak pilihan kuliner yang bisa di pilih. Dan yang menjadi ikon di jalan ini adalah garang asem di rumah makan Sari Rasa. Dengan fasilitas parkir mobil yang luas dan  mushola yang di sediakan pemilik rumah makan, membuat rumah makan ini tidak pernah sepi oleh penikmat kuliner.


Gambar di ambil di sini 
Jika ingin menikmati makanan soto Kudus, tempat makan di Taman Bojana bisa menjadi pilihan menikmati kuliner yang sudah menjadi ikon Kudus tersebut. Kurang lebih 1 km setelah jalan Agil Kusumadya, jalan terus sampai nanti ketemu alun-alun kota Kudus, Simpang Tujuh. Nah, Taman Bojana terletak tepat di sebelah kiri kantor Bupati kabupaten Kudus. Di Taman Bojana banyak pilihan kuliner Kudus selain soto Kudus, seperti pindang kerbau atau ayam dan sop kerbau.

Gambar di ambil di sini
Selain garang asem, soto Kudus, pindang kerbau atau ayam di Kudus juga ada kuliner yang sangat di kenal oleh masyarakat dan harga nya sangat terjangkau, yach ada nasi tahu (sego tahu) dan lentog tanjung. Di sepanjang jalan utama di kota Kudus sangat mudah mencari dua kuliner rakyat yang biasa nya membuka warung nya di pinggir jalan. Jika hari mulai sore, sepanjang jalan Sunan Kudus (daerah Menara Kudus) di kanan kiri nya di penuhi oleh gerobak kuliner yang kebanyakan mereka menjual nasi tahu.

Gambar di ambil di sini 
Setiap pulang ke Kudus, walaupun sebentar kami tak lupa untuk keluar rumah menikmati kuliner Kudus yang rasa nya memang maknyus. Padahal kuliner mak- e di rumah rasa nya pun tak kalah maknyus, hehehe. Beda tempat beda harga yach itu sudah menjadi rumus  pedagang kuliner ketika berjualan. Bagi penikmat kuliner seperti saya, kadang harga bisa menjadi masalah. Mengapa? Karena mempunyai anak yang banyak jadi itung-itungan nya  lebih teliti. Hmm, agak betul sih tapi yang kadang menjadi pertimbangan saya dan suami adalah selisih harga, beda tempat tentu harga nya juga beda ternyata setelah dimakan  maknyus nya sama. Hehehe

Mungkin buat teman-teman penikmat kuliner bisa mencoba pergi ke pasar tradisional yang paling ramai di daerah yang kita tuju. Nah, pasti di sana ada kuliner yang maknyus yang selalu di jadikan tempat jujukan (kedatangan) orang-orang ke pasar selain untuk belanja sembako.

Begitupun di Kudus, pasar Kliwon adalah pasar tradisional terbesar di Kudus dan karesidenan Pati. Pasti, di pasar kliwon ada warung makan yang paling enak dan itu bisa di lihat dari banyaknya para penikmat kuliner yang makan di warung tersebut.

Gambar di ambil di sini
Saya dan suami, sudah mempunyai langganan warung makan yang maknyus di pasar kliwon. Menu yang biasa nya kami pesan adalah dua porsi sop kerbau. Di tambah perkedel kentang dan paru goreng, tak lupa dua gelas es teh manis dan harga nya sama dengan harga satu porsi makanan dengan tambahan nya satu (perkedel kentang atau telur puyuh) dan satu gelas es teh manis di rumah makan. hehehe. Lumayan bukan selisihnya, bagi teman-teman yang jalan-jalan travelling dengan dana  pas-pas an, selisih harga tadi bisa di pakai untuk membeli oleh-oleh dan suvenir khas daerah tersebut.

Gambar di ambil di sini
Selain pasar Kliwon, pilihan kuliner yang maknyus juga ada di pasar Piji yang lebih di kenal dengan nama pasar Dawe. Warung makan bu haji, posisi nya di depan dan mudah untuk di cari adalah pilihan kuliner maknyus di pasar tersebut. Banyak nya pilihan menu, mulai sop kerbau, sayur lodeh, nasi rames, nasi pecel dan berbagai pilihan lauk membuat warung bu haji tak sepi oleh pembeli.
Seperti saya dan suami ketika awal tahun ini pulang ke Kudus menjemput anak-anak yang sudah liburan lebih dahulu di rumah mbah nya di Kajar, Dawe.
Setelah bis menurunkan kami di terminal, saya dan suami naik angkot ke Dawe dan berhenti sebentar di pasar untuk sarapan pagi di warung bu haji. Satu porsi nasi rames dengan lauk bakwan sayur dan satu gelas es teh manis cukup lima ribu saja. Hmm, terjangkau bukan.

Satu-satu nya (menurut saya) kuliner Kudus yang khas dan hanya di jumpai di Kudus adalah sate kerbau. Selama saya dan keluarga tinggal tidak di Kudus, belum pernah melihat warung yang menjual menu sate kerbau ini. Jika penikmat kuliner ingin mencicipi sate kerbau yang maknyus, langganan saya dan suami adalah sate kerbau Piji. Letak nya tidak jauh dari pasar Piji atau pasar Dawe, dari pasar ambil jalan ke arah Colo. Jangan lupa perhatikan plang (penunjuk jalan) di kiri jalan 'Jual Sate Kerbau', belok ke gang tersebut, lima rumah dari jalan raya, itulah rumah penjual sate kerbau nya. Waktu buka nya sore hari sekitar jam lima sore .

Foto koleksi pribadi
" Barang siapa yang suka di luaskan rezekinya dan di panjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali sitaturahmi"
[HR. Bukhori dan Muslim]

Silaturahim dan Kuliner
Apakah ada hubungan nya? Hehehe, ada ga ya. Dalam kebiasaan orang Jawa dan juga adab seorang muslim, menjamu tamu adalah memberikan makanan dan minuman sesuai dengan kemampuan nya. Apakah teman-teman pernah mengalami melihat sugatan (sajian) tuan rumah yang banyak sekali sampai bingung apa bisa muat semua nya kalau di makan. Alhamdulillah, saya pernah melihat dan merasakan tuan rumah yang menjamu tamu nya all out semua yang di punyai di sajikan, semoga Allah melimpahkan rizkiNya kepada tuan rumah yang sudah menjamu tamu nya dengan baik, aamiin.

Jika teman-teman silaturahim ke Kudus, berarti teman-teman juga akan menikmati sajian makanan dari tuan rumah yaitu makanan-makanan khas Kudus. Nah, kadang-kadang menikmati kuliner memang tidak harus dengan mengeluarkan uang, yach dengan silaturahim kita bisa juga menikmati kuliner khas daerah teman yang kita kunjungi rasa bayar aka gratis, hehehe.

Begitu pun jika saya menjamu tamu, makanan-makanan kuliner Kudus adalah pilihan menu yang resep nya mudah untuk di bikin sendiri. Setelah mengamati mak-e di pawon nya ketika mbalik ndeso, ada empat bumbu yang pasti ada di setiap makanan yang di masak. Kuliner khas Kudus selalu memakai bawang merah, bawang putih, kecap (untuk kecap yang paling di minati masyarakat Kudus karena rasa nya yang khas adalah kecap THG dan lele) dan cabe rawit. Seperti nya sederhana ya bumbu nya, tapi jangan salah makanan-makanan yang di masak mak-e rasa nya maknyus tak kalah dengan kuliner Kudus yang di jual di warung makan. #PromosiMasakanMak-e....:D

Saya akan menuliskan resep-resep kuliner Kudus buat teman-teman. Resep yang menurut saya sangat mudah di bikin dan bisa di sajikan dengan tidak cepat.

Soto Kudus
Bahan yang di butuhkan adalah ayam kampung yang sedang (tidak muda dan tidak tua umur nya), bawang putih, bawang merah, kemiri, garam, gula, bumbu kaldu (boleh pakai atau tidak tergantung selera). Bahan pelengkapnya adalah tauge, kentang goreng (jika suka), seledri, cabe merah rawit (untuk sambal).
Cara membuat nya, bawang putih (ukuran besar) kurang lebih sepuluh siung di iris tipis-tipis dan di goreng hingga kecoklatan kemudian simpan di dalam wadah yang tertutup. Bumbu yang di haluskan bawang merah enam butir, kemiri 3 butir, garam dan gula (sesuai selera). Ayam kampung di potong menjadi delapan bagian dan di cuci bersih, biasa nya saya akan membagi dua bagian. Sebagian saya masak dan sebagian saya simpan di lemari es. Siapkan panci untuk menumis bumbu yang di haluskan, masuk kan minyak goreng secukup nya  untuk menumis bumbu yang di haluskan, kemudian masuk kan ayam kampung yang sudah di potong-potong, aduk-aduk sampai rata dengan bumbu, kemudian masuk kan air sekitar dua liter tambahkan juga dua sendok makan bawang putih goreng. Tutup panci dan masak kuah soto sampai ayam empuk, jika air nya menyusut tambah kan lagi air dan jangan lupa tambahkan garam dan gula sampai rasa nya pas maknyus. Bahan sambal nya, goreng tiga butir bawang merah dengan 5-7 cabe rawit merah setengah matang. Kemudian haluskan dan tambahkan dengan tiga sendok makan kecap manis. Cara penyajian nya (sesuai selera ya...) masuk kan tauge (rendam dalam air panas dan tiriskan), seledri, kentang goreng (jika suka) dan bawang putih goreng secukupnya, tambahkan juga ayam yang sudah di goreng dan di suwir-suwir, siram dengan kuah soto. Monggo, soto Kudus (sederhana ala saya...) siap di nikmati.

Foto koleksi pribadi

Sop Kerbau
Bahan yang di butuhkan adalah daging sapi/iga sapi (kalau di Kudus daging kerbau yang di jual oleh para pedagang di pasar) sekitar dua ons, daun kol (kobis), tauge, daun bawang, wortel, seledri, merica, bumbu kaldu (boleh pakai atau tidak tergantung selera), bawang merah,bawang putih, garam dan gula (takaran sesuai selera).
Cara membuat nya, masak daging sapi sampai empuk, buang air nya, kemudian masak lagi dengan satu setengah liter air, masuk kan wortel dan daun bawang yang sudah di potong-potong. Bawang merah sepuluh butir dan bawang putih enam butir di iris tipis-tipis kemudian di goreng sampai kecoklatan. Siap kan cobek, masuk kan bawang merah dan bawang putih yang di goreng, tambahkan garam, gula dan merica (jika tidak mau pedas, sedikit saja merica nya) kemudian ulek sampai halus. Masuk kan ke panci yang sudah ada daging sapi tadi, aduk-aduk dan cicipi tambahkan garam dan gula sampai rasa nya pas maknyus. Bahan sambal sama seperti membuat sambal untuk soto Kudus. Cara penyajian, masuk kan daun kol, seledri dan tauge (yang sudah di siram air panas dan di tiriskan) secukupnya, potongan daging sapi kemudian siram dengan kuah sop. Monggo, sop kerbau (sederhana ala saya...) siap di nikmati.

Foto koleksi pribadi

Lodeh ayam
Bahan yang di butuhkan ayam kampung yang sedang (tidak muda dan tidak tua umurnya), bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, kemiri, garam, gula, kecap, santan instan 120 ml dan daun jeruk. Cara membuat nya, masuk kan sebagian ayam yang sudah di potong dan dicuci ke dalam dua liter air, masuk kan daun jeruk 3 lembar dan garam secukupnya dan masak sampai ayam empuk. Siapkan bawang merah 8 butir (di iris tipis), bawang putih 5 butir (di iris tipis), kemiri 3 butir, jahe 2 cm, kunyit 1 cm. Kemudian siapkan penggorengan yang sudah di beri minyak goreng, masuk kan bumbu-bumbu tadi dan goreng sampai hampir matang (jangan terlalu kering/matang). Siap kan cobek, jahe di keprek dan masuk kan ke dalam panci yang isi nya ayam tadi, selain jahe di uleg sampai halus kemudian masuk kan ke dalam panci. Jika air dalam panci menyusut, tambahkan lagi sampai 1,5 liter dan tambahkan santan instan aduk-aduk sampai mendidih, masuk kan kecap manis secukupnya (sesuai selera). Jangan lupa cicipi tambahkan garam dan gula sampai rasa nya pas maknyus. Monggo, lodeh ayam kampung khas Kudus (sederhana ala saya...) siap di nikmati.

Foto koleksi pribadi

Lodeh Terong
Entahlah bagaimana cerita nya nama masakan ini di sebut lodeh terong. Selain lodeh ayam ada juga lodeh terong kata suami saya, hehehe. Kuliner Kudus yang maknyus dan sederhana cara pembuatan nya, ternyata menjadi favorit (kata nya, hehehe...) suami dan teman-teman di apartemen saat suami saya belajar ke negeri van oranje, Belanda. Cara pembuatan nya sangat sederhana, selain terong bisa juga di tambahkan cabe merah keriting atau cabe ijo keriting (sesuai selera). Jika tidak ada terong bisa di ganti tahu (yang sudah di goreng) nanti nama nya jadi lodeh tahu, hehehe.
Bumbu-bumbu nya adalah bawang merah, bawang putih, garam, gula, kecap, santan instan. Siapkan penggorengan, masuk kan minyak goreng. Setelah panas masuk kan  bawang merah dan bawang putih yang sudah di iris-iris, aduk-aduk sampai setengah matang, kemudian masuk kan terong dan cabe. Aduk-aduk terus sampai terong layu dan empuk, masuk kan santan instan dan air secukup nya. Masuk kan garam, gula dan kecap cicipi sampai rasa nya pas maknyus. Monggo, lodeh terong (sederhana ala suami saya...) siap di nikmati.

Foto koleksi pribadi


Slrrpppp.....
Monggo di lap dulu (jika ada air liur yang hampir menetes), hehehe.
Walaupun, saat ini kami menjadi urbaner's bagian warga urban yang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian di megapolitan Jakarta. Makanan kuliner Kudus sudah menjadi bagian penting di lidah kami. Begitupun suami saya, mungkin lidah nya lebih sering mencicipi kuliner berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Kuliner Kudus masih lah paling pas maknyus di lidah nya. #BukanAgakLebay hehehe.

Alhamdulillah lebaran sebentar lagi. Marhaban yaa Ramadhan Kareem.
Semoga Allah masih memberikan nikmat rizki dan umurNya, sehingga kami bisa silaturahim ke rumah mbah nya anak-anak di lereng gunung Muria, Kudus...aamiin

Daaan...
Kuliner Kudus masakan mak-e dan masakan pawon rumah orang (baca. warung) siap menanti kami.
Aaah, kalau seperti ini bagaimana saya bisa kurus.....#hiks




Baca Selanjutnya ...

Sabtu, 25 April 2015

#TiketGratisTraveloka : Seandainya Saya Di Kasih Uang 10 Juta Untuk Travelling.....

Bepergian dengan memakai jalur udara, saat ini sangat mudah di lakukan.
Begitulah pengalaman saya dan keluarga awal bulan April ini, liburan tanggal merah kami manfaatkan untuk silaturahim ke rumah orang tua di Kudus.
Liburan yang singkat dimana anak-anak ijin tidak masuk sekolah, harus membuat anak-anak nyaman di perjalanan karena setelah sampai di rumah Jakarta mereka harus masuk sekolah lagi.

Beli Tiket Pesawat, Ke Traveloka Saja....
Suami saya sering bepergian ke luar kota dengan menggunakan pesawat. Tugas dinas baik mendadak maupun tidak, suami saya tidak repot dan bingung lagi mencari tiket pesawat. Banyak sekali biro perjalanan online saat ini. Dan suami saya sengaja men-setting smartphone nya dengan aplikasi traveloka untuk memudahkan membeli tiket pesawat. Simple, itulah alasan nya.
Begitupun, ketika pulang silaturahim ke rumah orang tua kali ini. Setelah sampai di rumah orang tua di lereng gunung Muria, di mana jarak ke kota nya sekitar l5 km kami tidak bingung lagi membeli tiket pesawat untuk balik ke Jakarta.
Tinggal klik aplikasi gambar burung godwit, kami tulis kota asal dan kota tujuan di menu tiket pesawat akan muncul banyak pilihan maskapai yang sesuai dengan keuangan yang kami miliki dan waktu yang kami inginkan.




Seandainya Saya Di kasih Uang 10 juta.....
Alhamdulillah, asyiiiik liburan bersama anak-anak (yang jumlahnya empat) sudah lama kami idam-idamkan. Kenangan bersama keluarga liburan ke Bali tahun 2011, sangat membekas di ingatan anak-anak. Mereka ingin sekali liburan kembali ke tempat yang bisa bermain pasir dan berenang di pantai.
Kali ini saya ingin mengajak anak-anak ke tempat wisata air yang lebih unik dari liburan ke pantai mereka yang dulu. Ketenangan dan keunikan pantai nya, sudah tergambar di film tetralogis Laskar Pelangi. Yach, saya ingin mengajak anak-anak berlibur ke Kepulauan Bangka Belitung, tanah kelahiran Si Ikal dan teman-teman nya.
Seperti biasa, saya akan membeli tiket pesawat di traveloka melalui smartphone yang sudah saya download aplikasi nya. Kali ini saya membeli di maskapai yang jargon nya 'Garuda Indonesia Garuda Experience' dengan alasan kenyamanan anak-anak selama di perjalanan.



Untuk praktisnya, saya juga membeli tiket balik ke jakarta dengan pesawat yang nyaman buat anak-anak dan bisa membuat mereka lebih fresh ketika esok nya harus berangkat sekolah lagi.



Karena bujet tidak begitu banyak, saya pesan hotel yang dana nya mencukupi. Pilihan saya dan keluarga jatuh pada hotel Santika Bangka.



Kesan Menggunakan Traveloka App
"Tadi kalian sudah beli tiket?," Tanya mak-e ketika kami di rumah Kudus.
"Sampun...sudah mak, besok tinggal ke bandara naik pesawat jam 20.00", jawab saya
" Lhooo....piye bagaimana kok bisa?", jawab mak-e tidak percaya
"Hehehehe...lewat online mak, tumbas beli di traveloka dapat harga 500 ribuan per kursi", saya menjelaskan ke mak-e.
Keren, amazing lah kata anak muda sekarang (ehem, karena saya juga masih muda hehehe). Praktis, gampang tidak repot apalagi di Kudus, saya dan suami harus turun gunung, jarak rumah ke kota sekitar 15 km. Kami bisa menghemat ongkos kendaraan untuk perjalanan membeli tiket dan juga waktu.
Aplikasi traveloka pun mudah. Tidak merepotkan dan membutuhkan data yang banyak untuk pembelian tiket nya. Tampilan menu nya yang sederhana membuat saya yang awam pun  bisa menggunakan nya.
Harga tiket nya, woow lebih murah di banding dengan biro perjalanan online yang lain. Dan traveloka sering mengadakan promo-promo, beruntung sekali pembelian kami awal bulan April kemarin. Karena traveloka sedang promo diskon 100 ribu setiap transaksi di atas 500 ribu. Alhamdulillah

Kesimpulan Biaya
  • Tiket Garuda Indonesia CGK - PGK untuk 6 orang Rp. 4.163.043
  • Tiket Garuda Indonesia PGK - CGK untuk 6 orang Rp. 4.937.064
  • Menginap di Hotel Santika Bangka selama 2 malam Rp. 869.117
  • Bujet 10 juta yang tersisa Rp. 30.776





Baca Selanjutnya ...

Selasa, 21 April 2015

#K3BKartinian : Ibu (mertua) ku, Inginku Kelak Sepertimu.....

Dulu....
Waktu saya masih kecil, ada seorang nenek sepuh sebut saja mbah Mo yang mempunyai anak banyak dan anak-anak nya menikah dengan anak-anak di desa nya sendiri. Jarak rumah masing-masing besan mungkin hampir berdekatan. Mbah Mo, adalah nenek yang kaya dan banyak bicara nya (baca. cerewet). Jika salah satu menantu nya ada yang berbuat kesalahan walaupun sepele, akan di cerita kan ke tetangga-tetangga nya. Bisa di bayangkan (saat itu), nama mbah Mo menjadi tenar di desa saya. Bukan karena cerita positif tentang beliau, tetapi cerita negatif tentang beliau di jadikan ibu-ibu untuk menakuti anak gadisnya.
" Awas ya ga nurut sama ibu, nanti ibu doa kan dapat mertua yang galak seperti mbah Mo...."
Hahahaha....lucu tapi ampuh juga untuk sejenak (mungkin bisa mendalam) para gadis di desa saya, agar tidak berani melawan orang tua.
Dan, saya termasuk salah satu anak gadis di desa saya yang akhirnya selalu berdoa di setiap sujud padaNya agar diberi kan keluarga baru, keluarga calon suami saya nanti yang baik hati dan sabar.
Bismillah.....


Dini hari di lereng gunung Muria yang dingin nya air masih enggan kulit untuk menyentuhnya.
Seperti biasa, terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Dan itu pasti mak-e yang hampir tidak pernah lupa untuk mengetuk pintu-pintu rahmat dan berkahNya di sepertiga malamNya.
Fisik yang sudah melemah, pasca sakit stroke ringan yang di alami  mak-e hampir empat tahun yang lalu, tak membuat mak-e melupakan ritual dini hari tersebut. Saya yakin selain nama suami (anak nya) ada nama saya yang terselip dalam doa nya......#mulai mbrebes mili, hiks

Sebagai ibu, mak-e adalah ibu yang tangguh, baik hati dan sabar. Hal itu, saya ketahui dari cerita suami dan bapak mertua. Mak-e menikah muda setelah lulus sekolah dasar, dua tahun kemudian berturut-turut mak-e melahirkan lima amanahNya. Suami saya adalah anak kedua mak-e dari lima amanahNya.
Sebagai petani, bapak dan mak-e mengolah kebun nya sendiri. Saat ini, selain kebun di tanami tanaman herbal dan buah-buahan. Bapak dan mak-e memelihara ribuan ayam petelur untuk di jual telur nya.

Sebagai orang tua, nasehat dan kasih sayang mak-e tidak hanya secara batin saja. Secara lahir, mak-e dan bapak adalah orang tua yang tidak pernah menyusahkan anak-anak nya. Justru kadang-kadang mereka memberikan materi kepada anak-anak nya. Masya Allah....

Pasca sakit stroke empat tahun yang lalu, mak-e rutin berobat ke salah satu dokter syaraf terkenal di daerah Kudus. Setiap bulan mak-e harus mengkonsumsi obat yang harga nya satu jutaan, tergantung kondisi mak-e ketika bertemu dan sharing sakitnya dengan dokter.
Alhamdulillah, Allah masih memberikan nikmat rizkiNya. Sampai saat ini, mak-e tidak pernah meminta bantuan ke anak-anak nya. Kadang-kadang, ketika kami pulang silaturahim ke Kudus. Kami akan membelikan obat-obatan tersebut ke apotik langganan mak-e, tapi kadang-kadang mak-e tidak mau di belikan dan mengganti dengan uang beliau. #mulai mbrebes mili lagi, hiks



Alhamdulillah, awal bulan April ini kami sekeluarga bisa silaturahim ke rumah orang tua di Kudus. Walaupun sebentar, saya melihat kebahagiaan dan senyum mak-e bercanda bermain dengan ke-empat cucu nya yang saat ini tinggal jauh dari rumah.
Semoga Allah selalu memberikan nikmat sehat dan rizkiNya agar kami yang saat ini mengadu nasib dengan para urbaners di megapolitan Jakarta ini bisa sering pulang silaturahim dan membahagiakan mak-e...aamiin







Baca Selanjutnya ...

Sabtu, 11 April 2015

[Cagar Budaya Jawa Tengah] Makam Sunan Muria : Peristirahatan Terakhir Sang Wali, Pengingat Kampung Abadi

"...Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki..."
[Inilah Pidato Lengkap Sultan Pada Pembukaan KUUI-VI, krjogja.com]
Bismillah....
Tak terasa hampir satu dekade saya menapaki jalanan pantura Jawa Tengah menuju rumah mbah nya anak-anak di lereng gunung Muria. Dulu, tak pernah terbayangkan bisa menikmati nikmat iman dan Islam yang tersebar di tanah Jawa ini berkat dakwah para walisongo yang terpusat di tengah nya pulau jawa, yakni di Jawa Tengah bagian utara ini.

Bukan rahasia lagi,  sudah masyur hingga seluruh nusantara bahkan luar negeri, umat Islam yang mayoritas ada di Indonesia ini sangat antusias mengunjungi makam para walisongo. Wisata ziarah ke makam para walisongo adalah perjalanan lahir dan batin dengan tujuan utama adalah semakin mendekatkan diri kepada Sang Illahi, Allah SWT. Perjalanan yang butuh waktu bagi para wisatawan tak akan terasa jika sudah sampai ke tempat makam para walisongo.

Ada tiga makam wali dari sembilan walisongo yang ada di provinsi Jawa Tengah. Makam sunan Kalijaga di kabupaten Demak. Dan makam sunan Kudus dan sunan Muria di kabupaten Kudus. Menurut silsilah, ketiga para walisongo tersebut mempunyai kekerabatan yang sangat dekat. Sunan Kudus dan sunan Muria adalah putra sunan Kalijaga dengan Dewi Soejinah ( putri sunan Ngudung).


Para Walisongo, sebagai seorang dai (ulama) mempunyai syaksiyah Islamiyyah (1) dan nafsiyah Islam (2) yang tinggi. Dengan mayoritas masyarakat yang saat itu masih menganut kepercayaan Hindu, Budha dan animisme. Para walisongo bisa mengajak masyarakat baik dari kalangan rakyat biasa hingga bangsawan dengan sukarela memeluk agama Islam. Masya Allah.

Para Walisongo, masing-masing mempunyai uslub (3) mensyiarkan Islam ke masyarakat pulau Jawa saat itu. Ada yang berdakwah di kalangan bangsawan dan kaum brahmana dan ada juga yang berdakwah di kalangan petani, pedagang, nelayan dan rakyat biasa. Raden Umar Said, putra sunan Kalijaga dikenal terampil  mengolah tanah bercocok tanam, dekat dengan nelayan dan piawai berdagang. Hal tersebut membuat beliau nyaman mensyiarkan ajaran Islam yang kaaffah ke masyarakat golongan bawah.



Raden Umar Said (Sunan Muria)
Foto di ambil di sini
Raden Umar Said, memilih mendidik dan mensyiarkan Islam di daerah gunung yang di kenal oleh masyarakat dengan sebutan Muria. Konon, nama Muria berasal dari nama Moria (bahasa Ibrani) yaitu nama gunung di dekat Yerusalem (Palestina) yang terdapat tempat pengurbanan nabi Ishak as.
Karena tinggal di gunung Muria, nama beliau lebih di kenal dengan sebutan sunan Muria.

Alhamdulillah....
Libur tanggal merah awal bulan April ini, saya sekeluarga masih di berikan nikmat umur dan rizkiNya, sehingga kami bisa silaturahim dengan orang tua di lereng gunung Muria, tepat nya di desa Kajar tetangga dengan desa Colo dimana makam sunan Muria berada.

Rumah mbah nya anak-anak yang tepat di pinggir jalan raya sunan Muria KM 13 tidak pernah sepi di lalui bus-bus antar kota antar provinsi yang membawa rombongan wisatawan religi berziarah ke makam sunan Muria. Walaupun rumah dekat dengan makam sunan Muria, kami jarang berkunjung sampai masuk ke makam kanjeng sunan jika pulang kampung. Kami cukup menikmati pemandangan gunung Muria di desa Colo tanpa masuk ke makam dengan menapaki 432 anak tangga nya atau dengan jalur ekspress, naik ojek tidak perlu capek, hehehe.

Berbeda dengan pulang kampung kali ini, saya mengajak suami untuk pergi ke wisata sunan Muria masuk sampai ke makam kanjeng sunan. Hal yang tidak mudah buat saya, sebagai ibu dari empat amanahNya, apakah saya membawa semua anak-anak atau hanya beberapa yang saya ajak. Alhamdulillah, dua amanahNya sedang menjaga toko bulek nya. Akhirnya, saya dan suami hanya mengajak dua dari empat amanahNya untuk ikut bersama melihat lebih dalam ke areal makam kanjeng Sunan di Colo.

Masya Allah....
Sejak terakhir saya berkunjung ke makam Sunan Muria pada tahun 2006, saat ini sudah banyak perbedaan fasilitas sarana dan prasarana yang  di bangun yayasan pengelola makam sunan Muria. Sebagai perantau yang tidak menetap di desa ini, saya bisa membandingkan bagaimana Pemda setempat dan pengelola serius membangun dan memberikan pelayanan maksimal kepada para wisatawan peziarah di bandingkan dengan daerah  lain yang pernah saya kunjungi.



432 anak tangga yang siap di jejaki langkah para peziarah
Foto koleksi pribadi
Keramahan dan kearifan penduduk lokal sangat terasa di tempat wisata religi ini. Hal ini tentu menguntungkan baik bagi para wisatawan, pengelola, Pemda dan masyarakat desa Colo. Kekhusyukan Ibadah di dapat para wisatawan dan materi yang bisa mensejahterakan masyarakat sekitar makam Sunan Muria pun di peroleh. Tak susah mencari bukti, karena terlihat dari rumah-rumah penduduk yang selalu di bangun karena kebanyakan mereka belanja material bangunan di toko bangunan bapak nya ponakan-ponakan saya, Alhamdulillah wa syukurillah...:)

Pintu masuk ke areal makam kanjeng sunan Muria dari jalur belakang (naik ojeg)
Foto koleksi pribadi
Dan sebagai pengunjung makam kanjeng Sunan yang rumah nya tidak jauh, saya dan suami tidak perlu memarkir kendaraan roda dua ke tempat penitipan, suami cukup menyimpan di dekat rumah yang sudah di kenal nya. Kami perlu membeli kantong kresek lima ratus rupiah saja  sebagai tempat sandal selama kami masuk ke areal makam karena alas kaki harus di lepas.


Aturan dan penunjuk jalan yang jelas di areal makam kanjeng Sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Tempat wudlu sebelum naik ke makam kanjeng sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Di dalam areal makam, bangunan yang tertata rapi, tanda dan simbol tulisan yang jelas bagi pengunjung, kebersihan yang di jaga serta keramahan para juru tamu membuat saya nyaman dan khusyuk berdoa kepadaNya di tempat peristirahatan kanjeng Sunan ini.
" Dari mana pak...bu?", tanya juru tamu yang umur nya sekitar setengah abad
" Sumenep....", jawab tamu di depan saya.
" Dari mana bu?", tanya juru tamu ke saya
" Kajar...pak", jawab saya
" ouw tonggo piyambak....monggo....", bapak juru tamu tersebut mempersilahkan kami masuk ke dalam.

Makam kanjeng sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billaah...
Tiada daya dan kekuatan selain hanya dari pertolongan Allah SWT....
Begitulah kesan yang saya peroleh dari wisata religi ke makam sunan Muria. Kanjeng sunan Muria pasti  lah memiliki fisik yang kuat karena memilih tempat padepokan untuk mendidik murid-murid nya di gunung Muria yang mempunyai jalur tempuh tidak mudah, karena harus mendaki ke puncak nya. Sedangkan aktivitas kanjeng Sunan yang harus turun gunung bertemu dengan masyarakat untuk syiar Islam tidak pernah berhenti hingga ajal beliau di panggil Sang Illahi.

Jalan menuju masjid sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Jalan menuju makam kerabat kanjeng sunan Muria
Foto koleksi pribadi
Dan tentu selalu akan  menjadi pengingat bagi para wisatawan peziarah makam kanjeng sunan Muria tentang makna arti hidup di bumiNya yang fana (sementara), yang tersurat lewat tembang Sinom yang di ciptakan oleh kanjeng sunan.
Nulodho laku utomo
Tumrape wong tanah Jawi
Wong agung ing ngeksi ganda
Panembahan Senopati kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinepsu ing tapa bronto
Tanapi ing siyang ratri
Amemangun Karya nak tyas ing sesama

Artinya (kurang lebih) adalah pesan kanjeng sunan Muria untuk meneladani sikap dan cara hidup Panembahan Senopati, Sultan pertama kerajaan Mataram yang selalu mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT dan berbuat baik kepada semua rakyat nya.

Juga dalam tembang kinanti  yang di ciptakan oleh kanjeng sunan Muria.
Podho gulangen ing kalbu
Ing sasmito amrih lantip
Aja pijer mangan nendra
Kaprawiran den kaesti
Pasunen sarironiro
Sudanen dhahar lan guling

Artinya (kurang lebih) adalah pesan kanjeng sunan Muria untuk melatih menjaga hati yang bersih, selalu belajar menjadi insan kamil (4), jangan sampai bermalas-malasan, harus semangat menjalani nikmat hidupNya dan mengurangi makan  serta tidur.


Lorong menuju pintu keluar  makam kanjeng sunan Muria yang bersih
dengan view kios-kios suvenir yang tertata rapi
Foto koleksi pribadi
Dan sebagai penutup tulisan ....
Saya berharap tempat peristirahatan terakhir kanjeng sunan Muria ini selalu di  rawat dan di jaga sarana  prasarana nya, sehingga tetap membuat nyaman para wisatawan peziarah dari seluruh nusantara dan luar negeri. Hal tersebut adalah sebuah amanah yang mulia dan mendatangkan berkahNya bagi pengelola dan juga Pemda setempat (Kabupaten Kudus).

Bagi para peziarah, dengan mengunjungi makam kanjeng sunan Muria, hendak nya kita selalu ingat bahwa hidup dan ber-ikhtiar mencari dunia sekuat dan sebanyak apapun, kita tidak akan selama nya hidup di alam fanaNya ini.
Sebagai hambaNya  seharusnya kita sudah bisa menjawab tiga pertanyaan besar dalam menjalani nikmat hidupNya ini.
# Dari mana kita hidup?
# Untuk apa kita hidup?

# Dan akan kemana setelah kita hidup?
Semua jawaban dari pertanyaan besar dan mendasar manusia tersebut adalah Allah SWT.
Nikmat hidupNya berasal dari Allah SWT, selama hidup harus sesuai dan menjalankan syariatNya, dan pasti kita tidak akan selamanya di dunia fanaNya, kembali ke kampung abadi ke sisi Sang illahi, Allah SWT Yang Maha Memiliki.

Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat” 

(HR. Ibnu Maajah no.1569)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka ziarahilah (sekarang)! Karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.”
                                    (HR Muslim dari Abu Buraidah)



Catatan kaki :
(1) Syaksiyyah Islam = Kepribadian seorang muslim yang terlihat dari pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyah) nya sesuai dengan ajaran Islam yang kaaffah.
(2) Nafsiyah Islam = pola sikap seorang muslim yang tercermin dari keseharian nya yang mempunyai akhlak yang baik di masyarakat.
(3) Uslub = jalan ; bisa juga cara yang di tempuh 
(4) 
Insan Kamil = manusia yang sempurna 

Bahan Bacaan :
1. Wikipedia
2. krjogja.com. Inilah Pidato lengkap Sultan pada Pembukaan KUII-VI.

3. kompas.com. Senandung Sinom dan Kinanti Sunan Muria.
4. muriastudies.umk.ac.id
 






Baca Selanjutnya ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...